Skip to main content

Late POST- naik gunung pertama kali-2985 mdpl

Sebelum benar-benar lewat, saya ingin sedikit demi sedikit mengumpulkan sisa-sisa "kecapean" naik gunung Gede. 
Saya sendiri super terkejut dan tidak menyangka bisa naik gunung. Mungkin berlebihan tapi memang demikian, sudah lama saya dengan seenaknya menyimpulkan bahwa saya tidak bisa naik gunung. Padahal belum mencoba. Demikianlah saya kemudian merasa naik tingkat satu level sebagai manusia. Intinya adalah jangan sekali -kali memandang rendah niat di dalam hati. Pesimistis hanya membawa diri pada tingkat itu-itu saja. Alih-alih berkembang.
Lalu pertanyaannya adalah, "  Mengapa berkembang penting? " 

Tuhan kita yang baik, menciptakan dunia yang luas dengan berbagai keunikan di tiap-tiap daerahnya. Sentuhannya pada masing-masing orang saja beda-beda. Meski kembar pun, tetap pribadi satu dari yang lain, berbeda, apalagi daerah. Ada pantai, gunung, bukit, sungai, kebun, taman, kota, desa, budaya, orang dan hal-hal lainnya yang perlu kita kenal. Mengenal banyak hal membuat kita semakin banyak tahu sehingga pemikiran dan sikap kita, tidak menjadi sempit dan kerdil. Sempit dan kerdil hanya akan membawa pada rangkaian kesombongan-kesombongan yang tidak pada tempatnya. Kita, saya dan kamu seringkali terjebak dan jatuh dalam jenis dosa ini. Tagar #kurangpiknik memang cukup beralasan kalau ppl sudah melihat banyak sikap jenis ini meraja rela. 

....
Baiklah, balik ke topik.

Persiapan 

Fisik 
Oh ya, perlu dikenalkan, ketua tim jalan-jalan ke gunung ini kebetulan master naik gunung. Namanya Didi. Kalau mau naik gunung, ngajak Didi saja, kadang suka buka open trip.  Si Didi sudah dari jauh-jauh hari mengingatkan bahwa persiapan minimal adalah olahraga. Minimal dua minggu sebelum naik, sudah jogging. Nasihat ini tentu saja saya iyakan dengan antusias. Namun kenyataanya, saya jogging H-2, sekali keliling kompleks dan sekali di Sabuga. Di Sabuga, saya malah tergoda senam bersama.   Jangan ditiru! Padahal Dianti, lari 3 km selama beberapa kali putaran.

Dokumen dan Uang Masuk
Untuk naik ke Gunung Gede, teman-teman harus mengumpulkan fotocopy KTP dan surat keterangan sehat dari dokter. Nah untuk surat sehat bisa diurus di Puskesmas terdekat Mengapa bukan Layanan Kesehatan Kampus? Ternyata tidak diizinkan untuk mengurus di kampus. Iya sih, risiko perjalananan ditanggung sendiri. Untunglah, pengurusan surat keterangan sehat di Puskesmas Dago sangat cepat dan lancar. Antrian kita beda sama antrian pasien, jadi lebih cepat.

 Uang masuk untuk ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah sebesar  27.500 (untuk hari biasa) dan Rp.32.500 (weekend). Sebenarnya kita bisa pake kategori pelajar dengan membayar Rp.16.000,00 namun kemungkinan mengurus surat pengantar institusi agak ribet.

Alat, Perlengkapan & Makanan

Sebagian perlengkapan atau malah hampir perlengkapan utama dibawa master dan kawan-kawan cowok. Isi tas 25 L saya, sleeping bag, baju untuk tidur semalam, pakaian untuk turun dan pakaian pulang,cemilan, dan AQ** 1,5 L, dan sandal jepit. Tentunya, sweater dan jacket.Oh ya, saya tidak tahu kenapa, saya mengenakan baju putih. Sewaktu start baru sadar kalau saya pakai putih. Yah, baiklah dengan semangat "berani kotor itu baik"
Tim
Perjalanan
sebelumnya, kira-kira pukul 19.00 kami kumpul depan kampus ITB dan dengan menggunakan 2 mobil sewaan menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Menginap semalam di penginapan dan parkir mobil sewaan di sana selama dua hari di Cibosas.Pagi-pagi sekali setelah sarapan, kami naik angkot menuju Gunung Putri. Track yang kami lalui  ketika naik sangat lumayan (apa ini? ga jelas) 

Ada dua jalur untuk naik gunung Gede, melalui  Gunung Putri dan Cibodas. Kami naik dari Putri dan turun lewat Cibodas. Dua jalur ini sangat berbeda. Jalur Putri, tidak terlalu berbatu sedangkan jalur Cibodas, jalurnya lebih banyak batu dan lebih variatif karena ada " tebing setan"  dan jalur air panas yang sempit dan licin. Untunglah kami naik dari Putri, kemudian turun Cibodas.

Nah sampailah kita di padang perkemahan yang luas. Saya sempat loh, lari-lari keliling kegirangan. Semacam film Bolywood dan tiduran. Maaf kelakuan bocah banget. Foto-foto ga tau diri,,pakai kamera orang pula sampai si Bima mengeluarkan statement semacam, "ka Rosa, masa gitu? Kan selama ini image-nya   dewasa, diem." 



Pose impian setiap kali ngeliat padang rumput. Ahayyy, Surya Kencana 
Satu hal yang menarik perhatian dan perlu dipikirkan adalah banyaknya sampah di setiap pos. Saya heran. Biasanya jiwa-jiwa pendaki itu tahu diri dan sadar serta cinta lingkungan.
Sampailah di penghujung POS, apakah saya akan naik gunung lagi? Sepertinya IYA.

Comments

  1. Pengalaman pertama saya naik gunung sama juga ditulis di blog. Tapi kamu beruntung langsung dapet gunung gede. Oh ya, naik gunung itu candu loh. Kpan naik bareng?

    ReplyDelete
  2. naik gunung memang seru sekali ya, apalagi setelah melihat padang rumput dan tempat-tempat indah lainnya..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah dibaca,semoga bermanfaat. Silakan menuliskan komentar Anda. Terima Kasih

Popular posts from this blog

"Ga nabung yah jadi bingung"

Ahay..,saya kangen nge blog..Salam kangen dari saya pada sahabat persablogan yang sering berkunjung dan sering saya kunjungi dan sering berbagi bersama. Yay, saya ngepos t lagi . Beberapa jam yang lalu masih di hari yang sama, saya lagi-lagi terpesona dengan beberapa orang lansia yang membuat saya tersenyum dan belajar.   sumber: www.fao.org/docrep/ 005/y4094e/y4094e15.gif Latar cerita, bertempat di sebuah koperasi. Bukan sebuah kantor besar tapi hanya ruang kecil seluas kamar saya. Orang- orang mengantri dengan sebuah buku catatan berwarna biru yang saya sukai, di bangku bermodel sama yang saya duduki ketika sekolah dasar. Di bangku yang berhadapan dengan petugas( bendahara) duduk seorang kakek mengenakan baju berwarna biru dimasukan dalam celana jeansnya, duduk sambil menyerahkan uang dan buku koperasinya serta  menjelaskan kolom mana saja yang harus disi dengan jumlah uang yang ia inginkan. "Tua-tua rajin menabung, cucu-cucu senang, hahahaha,"katanya ketika sele...

Penghargaan bagi lansia

"karena mereka tua oleh waktu tapi kenalilah sejenak masa mudanya" Sumber:http://ibnumada.files.wordpress.com/2010/04/nenek.jpg  Kini kita masih muda lalu menjadi tua secara perlahan-lahan karena waktu yang kian beranjak, Kadang kita suka menyangkal ketuaan kita( hahahaha, suka ngaku-ngaku masih 17, iya ga??)  Lihatlah, sekian banyak kerut di dahi, keriput wajah dan mata yang berbicara tentang kisah hidup yang telah dilewati. Suka dan duka. Di Jepang diadakan satu hari libur besar untuk menghormati para lansia yang diistilahkan Keirou no hi      untuk menghormati kerja keras dari para lansia ini. Upacara ini diperingati setiap hari Senin, mingggu ketiga bulan September. Saya merasa bahwa penghargaan bangsa Jepang terhadap para lansia sangat besar sampai hari itu diliburkan apalagi hari Senin. Saya bertanya-tanya, di Indonesia ada ga ya? Setelah browsing ternyata di Indonesia juga diperingati hari Lansia, tanggal 29 Mei menurut UU no 13 tahun 1998 lo...

Saya, Kamu dan Alam (Sahabatkah?)

“Karena kita tidak hidup seribu tahun lagi tapi alam bahkan akan ada beribu-ribu tahun lagi” dok pribadi:Dipotret dari nyamanya kursi bus dalam perjalanan Jawa-Bali, July 2010 Saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan alam saya dan alam anda seribu tahun lagi. Bukan tidak mungkin untuk menjadi sangat berbeda dengan bumi yang kita tinggali sekarang, yang bahkan kondisinya memprihatinkan.  Generasi   kita selanjutnya mungkin akan mengenakan masker untuk menghalangi radiasi yang dapat merusak langsung kulit karena lapisan ozon yang membolong. Mengapa? Ah, saya yakin anda dan saya pasti bukan nenek moyang yang baik bagi penerus kita. Bukan seperti nenek moyang kita yang dalam sejarahnya menghasilkan penemuan-penemuan yang membantu kita kini. Kita akan dicap sebagai neneng moyang masa perusakan.  Tidak adil memang, karena masih ada sebagian besar orang yang pada masa ini yang menyerukan perbaikan pada alam ,menunjukan persahabatan pada alam dan mengh...