Thursday, May 25, 2017

Jalan-jalan ke Ho Chi Minh City bag 1 -Persiapan, Perjalanan & Hari Pertama

                                   
 Paulo Coelho'And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Dan segala yang baik dan buruk, sebaiknya dituliskan untuk diingat dan dijadikan pelajaran untuk selanjutnya.
             
Halo  travelers dan teman-teman, kali ini saya ingin berbagi cerita  perjalanan saya dan teman-teman ke Ho Chi Minh City. Kami berterima kasih pada beasiswa LPDP RI yang telah mensponsori perjalanan yang sangat berkesan dan membuka wawasan ini. Setelah berkas kami diterima baik oleh sponsor dan pembimbing serta mengetahui ketua program studi, kami pun merencanakan perjalanan kami. Tentu saja dengan modal acceptance dan invitation letter dari panitia seminar.


Kami memesan tiket H-5 hari dari keberangkatan.Sebenarnya bisa dipesan lebih awal dengan harga yang lebih murah, namun salah satu teman kami urusan paspornya belum selesai.
Perkenalkan 3 anak band, Bima, Allan dan kang Gema yang menjadi teman seperjalanan
Melalui #travel**a, kami pun mendapat penerbangan yang paling murah pada hari pemesanan dengan #JetS***, transit di Singapura selama kira-kira 9 jam. Penerbangan pukul 17.20(delay 1 jam) kemudian dilanjutkan lagi pukul 7.20 hari berikutnya. Kami melewatkan malam di area transit. 
Tidak banyak yang kami explore, karena tiba kira-kira pukul 22.00. Tentu saja, staf canteen incaran saya untuk makanan yang lumayan murah dan banyak sudah tutup. Kami pun mengitari area transit dan memesan  roast Chicken dengan harga 6.5 SGD.
Nah resto ini agak unik karena pemesanannya melalui mesin. Sama seperti pesan minuman atau tiket kereta. Jadi kita agak norak begitu, padahal sama saja seperti pesan tiket KA Jakarta.  Pecahan yang kami masukan 50 SGD dan tidak ditolak oleh mesin.
Foto dulu setelah kenyang.
Namun food stall di transit area tidak terlalu banyak. Jadi baiknya saran saya, kalau teman-teman masih kuat jalan bisa ke terminal 3 karena food stallnya lebih banyak. Naik sky train menuju terminal 3.

Oh ya, teman-teman bisa langsung akses wifi #WiFiChangi dan register nomor hp. Kemudian akan dikirimi password untuk akses masuk. Entah mengapa hp sponsor saya agak agak susah dapat sinyal cuma di tempat tertentu saja. (ya ellah, apa-apa ada sponsornya haha. Btw, hp xiomi mi4i saya dicopet di pasar Gasibu, dua hari sebelum berangkat. Karena keuangan menipis, saya jadinya belum bisa beli hp baru. Untunglah, Koko yang baik dan punya kelebihan hp) menawarkan  hp nya untuk saya pakai. Thanks, Ko!
Jika hp mati atau susah sinyal, kita bisa dengan sepuasnya pakai internet desktop yand ada di beberapa titik. Mungkin butuh buka email atau sekedar check in location.

Oh ya, ada kebakaran di terminal 2, sehingga penerbangan dialihkan ke terminal 3. Otomatis area sangat penuh sesak. Namun berita kebakaran ini baru saya ketahui ketika ada teman dari Indonesia yang memberitahu. Saking besarnya bandara, sampai tidak ketahuan. Kami pun balik ke terminal 1 area transit untuk mencari "tempat tidur". Sofa-sofanya (area longue) cukup nyaman untuk tidur. 
Tips bawa kain selempang karena dingin. Saya tidak ingat sama sekali soal menginap di Changi, taunya transit saja tanpa tidur.



Taraaaa, dan sampailah kami di Ho Chi Minh yang cukup terkenal dengan delta sungai Mekong-nya. Saya ingat pernah menghafal nama delta Mekon untuk pelajaran Geografi. Biasa, masih tidak menyangka akan bisa menginjakan kaki ke sini.

Delta Mekong, sumber kkehidupan yang mengalir melewati China, Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam

Saigon River dari ketinggian 
Imigrasi  di Vietnam, khususnya bandara Tan So Nhat  tidak terlalu ketat seperti di Indonesia atau Singapura atau Malaysia. luas  dan paling ramai. Di sini tidak dipisahkah antara foreigners dan native. Semua bertanda all paspors. Jadi kita semua tinggal mengantri di tempat yang lowong tanpa harus mengisi form VOA seperti di Singapura.  Dari bandara kami menukar USD kami dengan VND. 50 USD dapat sekitar 1000000 VND (Dong).  Transportasi menuju kota, bisa dilakukan dengan taksi Vina Sun taksi (disarankan) karena menggunakan argo. Hati-hati scam. Namun entah mengapa kami menggunakan travel yang terbilang cukup mahal sebenarnya. Jika di Indonesia sopir di kanan, maka di Vietnam sopirnya di sebelah kiri. Kemudian karena sebagian orang Vietnam yang kami temui tidak begitu fasih bahasa Inggris jadi kami tidak mengobrol dengan sopirnya.

Sesampai di hotel, karena watu check in kami masih lama, kami jalan-jalan sebentar mencari arah jalan ke hotel Rex, tempat acara diadakan. Tentunya setelah meminta izin menitipkan tas di hotel.
Di samping hotel, ada toko makanan halal. Kami makan di sana, karena sudah sangat lapar. Hitungannya sih lumayan mahal untuk ukuran kami yang ingin melakukan penghematan.Tetapi, tentu saja enak dan segar. Kami membayar 360000 VND (sekitar Rp. 180.000 untuk berempat).

Berikutnya tentang akomodasi kami selama di Ho Chi Minh. Kami memesan hotel bintang 3 selama 2 hari (dicover oleh sponsor) di travel****.  Saya lupa foto kamar hotelnya, lokasinya dekat dengan Ben Thanh Market, berada di deretan hotel-hotel lainnya.  Kami membayar Rp. 607749 untuk dua malam di kamar standart. Dalam kamar ini juga ada kulkas kecil, bisa untuk mendinginkan minuman yang kita bawa. Tersedia juga mie dan minuman dingin yang jangan asal dimakan atau diminum. Baiklah kita cek harga biar enak di kantong dan hati. Bukan apa-apa, di trip macam begini pengeluaran harus sangat ketat. 1 botol minum harganya 20000VND (kira-kira Rp 10.000,00)
Tampak depan hotel The White Luxury.

Image result for the white luxury room ho chi minh
Kamarnya begini, cuma jangan dibayangkan luas, sempit (source: google)  


Oleh karena acara yang saya hadiri resmi, maka saya memesan fasilitas ironing, kena charga Rp.10000 VND perpotong baju atau celana.  . Seharusnya jam 14.00  tapi bisa dilakukan jam 11.00. Secara keseluruhan, hotelnya sesuai gambar tapi jangan berharap terlalu banyak dengan luas kamar atau lorong-lorongnya. Semuanya serba sempit. Makanannya tentu saja banyak dan lengkap, mulai dari buah, cemilan, makanan berat hingga mie. Untuk yang muslim, bisa menanyakan ke resepsionis dulu mana makanan yang tidak mengandung pork. Saya pribadi cukup puas dengan pelayanan hotel the White Luxury ini karena dibolehkan check ini lebih awal. Meski saya lebih prefer pelayanan hostel.Untuk akses kemana-mananya, lokasi hotel sangat dekat dengan pasar Ben Thant jadi mudah untuk menemukan makanan halal.

Ehem, btw, hotel juga menanyakan apakah teman ingin mendapat pelayanan plus-plus atau tidak. Aha, tentu saja pertanyaan ini akan diajukan diam-diam, jika tidak ada teman perempuan. Jangan kaget, ya, haha.

Pemesanan hotel,  saya lakukan melalui travel***. Kenapa bukan yang lain? Saya tidak punya kartu kredit untuk pesan melalui bookin*.com. Katanya bisa melalui book****.com dengan memasukan nomor kartu debit, karena teman saya bisa pakai. Nah, dulu ketika backpacker pertama kali sendirian, saya pesan di situs itu, tapi hostel membatalkan secara sepihak bookingan saya sehari sebelum berangkat. Untunglah ada mas Uut, seorang yang saya kenal di situs jalan jalan, yang bilang pakai travel*** saja karena bisa langsung bayar. Hanya saja pemesanan di traveloka ada kekurangannya, karena saya memesan untuk empat orang, pemesanannya harus satu2 dengan beberapa kode booking karena saya memesan kamar dengan tipe yang berbeda. Ditambah lagi, waktu booking dan batas pembayaran hanya 1 jam. 
Oh ya, saya juga melakukan proses refund di trave***ka  dan prosesnya cepat. Sehari apply dan langsung dikirim balik duitnya. Jadi setelah pesan hotel, sebaiknya teman-teman cek lagi layanan apa yang disediakan oleh hotel. Saya langsung mengganti hotel karena ada laporan kalau tidak termasuk wifi. Entahlah, sebelumnya sudah dicek ada tapi giliran sudah issued, ada laporan tidak termasuk wifi. Untunglah pihak agen cukup cepat tanggap.

Well sekian untuk day 1 dan 2 perjalanan ke Ho Chi Minh city. Disambung lagi dengan cerita konferensinya.  
Ben Thanh Market-Pusat oleh-oleh murmer di Ho ChiMinh

Di salah satu persimpangan area Ben Thanh

Berinteraksi dengan orang asli Vietnam
Area sekitar hotel


NB:
Saya turut berduka cita dengan korban ledakan bom Kampung Melayu.  Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kekuatan.My deepest condolence.
Selamat juga untuk  keluarga dan teman-teman saya  yang akan memasuki bulan puasa.


























Saturday, April 22, 2017

Sombong

Jadi jangan sedikit pun kamu menyombongkan diri. Sombong itu bukan milik mereka yang kaya harta.  Sombong itu bukan saja bentuknya material, melainkan pikiran. Jangan sekali kali berpikir lebih pandai, lebih religius, lebih suci, lebih kuat, lebih cantik, lebih aktif,lebih baik.
Jangan sekali kali. Toh kita manusia biasa, nafas diberi. Berbagilah kebahagiaan.
Manusia demikianlah adanya hanya butuh untuk saling paham, saling mengerti, saling cinta, saling menhargai dan saling memperhatikan.

Jangan pula menganggap remeh orang yang lebih muda atau sudah tua. Setiap orang dan generasi ada masanya. Jadi saling menghargailah.

Demikian, manusia hendaknya saling mendukung satu sama lain.
(Refleksi, reminder untuk diri sendiri dan jikalau ada yang turut membaca, semoga bermanfaat)


Tuesday, April 18, 2017

Sehari hari

Banyak sekali tantangan untuk menjadi orang yang baik. Hati sudah diiniatkan untuk ditata serapi mungkin, bebas dari rasa jengkel atau dongkol berkepanjangan. Tapi toh, walau sudah diniatkan, selalu ada saja ujiannya.
Sebenarnya kita bisa bebas dari kemarahan dan kekesalan, karena kita lah yang memilih bagaimana suasana hati kita. Tidak tergantung dari kejadian-kejadian apa pun. Tapi, yah tapi lagi, demikianlah ujian.

Well, sebanyak banyaknya ujian, baiknya tetap selalu bahagia dan bermanfaat bagi orang lain.

Cikal Bakal

Judul di atas merupakan judul salah satu bab dari buku "Dunia Tanpa Suara" yang baru saya beli sewaktu kunjungan ke Depok.  Bab ini merupakan bab yang cukup bikin saya kalem dan "aware" seharian. Mengapa?

Adalah pengisahan  dengan indah cikal bakal semesta yang kemudian dicontohkan dengan  bagian sederhana namun kompleks dari bagaimana manusia ada. Dari banyaknya sel sperma ayah kemudian bertemu dengan sel telur ibu dan menjadi satu. Kemudian dari satu itu terjadi ratusan pembelahan sel sehingga seorang manusia utuh tercipta.

Penciptaan yang luar biasa dari sang  maha karya. Manusia, satu dari sekian banyak makhluk hidup lain. Masing-masing ada yang di air, udara, tanah, gunung, lautan membentuk suatu kesatuan yang selayaknya saling menjaga. Untuk itulah kita hidup berdampingan.

Cikal bakal mengantar saya pada realita saat ini. Secara nasional, bangsa boleh dibilang mengalami kemunduran. Nilai-nilai kebhinekaan yang dulu dibanggakan mulai diurai urai berdasarkan warna. Namun saya tidak boleh pesimis, karena ini hanya riak dari politik semata. Masih banyak orang beriman yang toleran di luar sana. Kita selayaknya selalu bercermin, melihat kembali ke belakang
Toh pada dasarnya kita semua adalah manusia dengan cikal bakal sel sperma dan sel telur yang mengalami proses pembelahan sel selama sembilan bulan di rahim ibu. Kemudian ada kuasa luar biasa yang kita imani sebagai Tuhan. Menghidupkan dan memberkahi.

Jadi jika kita kembali ke cikal bakal, kita akan dapat mengerti satu sama lain. Menghargai satu sama lain. Mencinta satu sama lain.

(Isi terinspirasi "Dunia Tanpa Suara" W Mustika)