Saturday, April 22, 2017

Sombong

Jadi jangan sedikit pun kamu menyombongkan diri. Sombong itu bukan milik mereka yang kaya harta.  Sombong itu bukan saja bentuknya material, melainkan pikiran. Jangan sekali kali berpikir lebih pandai, lebih religius, lebih suci, lebih kuat, lebih cantik, lebih aktif,lebih baik.
Jangan sekali kali. Toh kita manusia biasa, nafas diberi. Berbagilah kebahagiaan.
Manusia demikianlah adanya hanya butuh untuk saling paham, saling mengerti, saling cinta, saling menhargai dan saling memperhatikan.

Jangan pula menganggap remeh orang yang lebih muda atau sudah tua. Setiap orang dan generasi ada masanya. Jadi saling menghargailah.

Demikian, manusia hendaknya saling mendukung satu sama lain.
(Refleksi, reminder untuk diri sendiri dan jikalau ada yang turut membaca, semoga bermanfaat)


Tuesday, April 18, 2017

Sehari hari

Banyak sekali tantangan untuk menjadi orang yang baik. Hati sudah diiniatkan untuk ditata serapi mungkin, bebas dari rasa jengkel atau dongkol berkepanjangan. Tapi toh, walau sudah diniatkan, selalu ada saja ujiannya.

Sebenarnya kita bisa bebas dari kemarahan dan kekesalan, karena kita lah yang memilih bagaimana suasana hati kita. Tidak tergantung dari kejadian-kejadian apa pun. Tapi, yah tapi lagi, demikianlah ujian.

Singkat cerita, contohnya hari ini.Saya agak baper. Tersinggung. Dan saya memutuskan untuk jujur mengakui ini.  Biar bisa cepat lupa dan mood kembali Ok. Saya sebetulnya kesal dengan perbuatannya. Saking mungkin menganggap dekat, jadi seenaknya berbuat demikian. Tidak usah diceritakan.  Orangnya baik sebenarnya dan saya menyadari bahwa tidak ada maksud lain dari perbuatan tersebut
Yah, tapi lagi-lagi, kekanak-kanakan dan tidak pantas.

Demikian.
Well, sebanyak banyaknya ujian, baiknya tetap selalu bahagia dan bermanfaat bagi orang lain.

Cikal Bakal

Judul di atas merupakan judul salah satu bab dari buku "Dunia Tanpa Suara" yang baru saya beli sewaktu kunjungan ke Depok.  Bab ini merupakan bab yang cukup bikin saya kalem dan "aware" seharian. Mengapa?

Adalah pengisahan  dengan indah cikal bakal semesta yang kemudian dicontohkan dengan  bagian sederhana namun kompleks dari bagaimana manusia ada. Dari banyaknya sel sperma ayah kemudian bertemu dengan sel telur ibu dan menjadi satu. Kemudian dari satu itu terjadi ratusan pembelahan sel sehingga seorang manusia utuh tercipta.

Penciptaan yang luar biasa dari sang  maha karya. Manusia, satu dari sekian banyak makhluk hidup lain. Masing-masing ada yang di air, udara, tanah, gunung, lautan membentuk suatu kesatuan yang selayaknya saling menjaga. Untuk itulah kita hidup berdampingan.

Cikal bakal mengantar saya pada realita saat ini. Secara nasional, bangsa boleh dibilang mengalami kemunduran. Nilai-nilai kebhinekaan yang dulu dibanggakan mulai diurai urai berdasarkan warna. Namun saya tidak boleh pesimis, karena ini hanya riak dari politik semata. Masih banyak orang beriman yang toleran di luar sana. Kita selayaknya selalu bercermin, melihat kembali ke belakang
Toh pada dasarnya kita semua adalah manusia dengan cikal bakal sel sperma dan sel telur yang mengalami proses pembelahan sel selama sembilan bulan di rahim ibu. Kemudian ada kuasa luar biasa yang kita imani sebagai Tuhan. Menghidupkan dan memberkahi.

Jadi jika kita kembali ke cikal bakal, kita akan dapat mengerti satu sama lain. Menghargai satu sama lain. Mencinta satu sama lain.

(Isi terinspirasi "Dunia Tanpa Suara" W Mustika)

Sunday, April 16, 2017

Hal menarik akhir-akhir ini

Ada masanya untuk mengetahui dan mengenal serta mendalami.
Setelah turut serta mengikuti perkembangan timeline twitter dengan tagar #BacotSispai dan kemudian kasus #Ninaforjustice dari mention ke mention.

Ada dua hal penting yang dipelajari:

Ada sebagian orang berkorban untuk hal tertentu sampai sampai harga diri dan prinsip dikorbankan. Demi foto-foto menawan di berbagai belahan dunia, seorang cewek ngutang sana sini dengan banyak menipu. Poor, girl!

Lalu yang kedua. Ini belum dipastikan kebenarannya karena masih diproses secara hukum. Yah, ceritanya, ceritanya yah, ada seseorang tokoh yang dikenal sangat perhatian sama binatang baik peliharaan maupun tidak, lalu sering diundang ke mana-mana karena jiwa aktivisnya tersebut. Akun sosial media nya pun gencar mengunggah foto binatang dengan caption yang pro binatang.Namun berdasarkan keluhan artis/aktivis Melanie Subono, tokoh ini menjadi tersangka kasus entahlah penganiyaan atau pengabaian binatang peliharaan (si tokohnya menolak pernyataan ini. Katanya ini fitnah belaka) Baiklah semoga cepat terusut dan hanyalah kebenaran yang terkuak.

Demikian.  

Saat ini, saya  sedang dalam masa mengenal tokoh YB Mangunwijaya. Agak terlambat memang tapi sayang jika tidak sama sekali. Setelah tak terencana menjadi ibu untuk satu judul buku, "Secangkir Teh Hangat dari DED" yang ternyata mengulik kisah romo Mangun, dari kerabatnya. Lalu saya berniat untuk membaca buku buku sastranya.

Oke. Sip. Semoga saya lekas pisah dengan tesis akademis saya, dengan pantang instagram 2 bulan. Rajin menulis dan membaca. Lalu Segera pindah dan menghidupi tesis kehidupan.

Salam


Friday, April 14, 2017

The Last Supper

Peristiwa malam perjamuan kudus, saya kenang dalam jalan Bandung menuju Jakarta. Dengan setengah mengantuk dan dengan setengah mimpi. Saya selalu tidak bisa lelap dalam jalan, karena kerlap kerlip malam menggugah di luar sana. Mungkin juga kursi yang kurang empuk. Lalu kemudian kompleksnya pikiran ini, yang selalu memikirkan ini dan itu.

The Last Supper berkisah tentang malam sebelum Yesus diputuskan untuk disalibkan oleh orang banyak. Lebih pilu lagi diserahkan oleh murid-Nya. Saya pikir memang demikian adanya, sumber kebahagiaan dan ketidakbahagiaan di dunia ini datang dari orang-orang terdekat. Pertanyaannya adalah seberapa sering saya menjadi sumber kebahagiaan bagi orang di sekitar saya? Tidak perlu hanya dengan materi, tetapi semangat hidup, inspirasi, rasa hormat dan cinta serta kepedulian tanpa pamrih. Adakah?

Berkaca dari pengalaman penyerahan diri Yesus untuk melayani sampai membasuh kaki, saya jadi memikirkan peran dan kontribusi yang sebaiknya saya beri sebagai manusia, di komunitas saya, di keluarga saya dan lingkungan hidup saya. Seberapa sering saya melayani dengan tulus dan iklas? Dalam jalan macet Bandung Jakarta itu, saya memikirkan hal-hal praktis sehari-hari yang kiranya dapat meningkatkan level keimanan dan intimasi saya berkaitan dengan praktik hukum cinta kasih. 
Intensitas berdoa saya selalu ada dalam berbagai bentuk dan yang paling saya suka adalah ketika saya berjalan kaki dan menikmati udara pagi. Menghirup dalam-dalam kasih pencipta yang memberi energi baru setiap hari. Lalu bercakap cakap sebentar, Mengadu. 

Demikian.