Thursday, April 28, 2011

Warna- warni=Love?

Aku harus jujur kali ini. Jujur untuk mengakui bahwa rasaku tentang sesuatu padamu. Ah, telah berkali-kali kuharamkan rasa ini untuk kudalami apalagi kukisahkan. Namun kali ini berbeda padamu dan aku tak tahu mengapa.


Kau tahu betapa ingin kuenyahkan dirimu dari pikirku. Ingin kuhapus gambaran yang membayang tapi apa daya ketika telah melekat erat dalam benakku. Kau favorit seperti si Shinichi Kudo, sang detektif dunia khayalan itu. Aku suka ketika kau berdiam diri. Entah karena kau sedang berpikir atau malah kau sedang tak ingin berbicara dan saat kau ada dalam duniamu yang sangat kau sukai, karena saat itu aku sama sekali tak bisa menjangkaumu. Seperti bintang dan hanya bisa kupandang.

Ah, tapi kau sama saja seperti Kogoro tidur, asal dan menyebalkan. Jahil dan sok tau. Akan tetapi Kogoro Mouri pun masih favoritku juga. Huaaaah, dan aku pusing.

Lagi-lagi aku mendesah panjang, mengapa ada sinyal-sinyal yang kutangkap darimu. Reseptorku tentu tidak bisa disalahkan karena lagi-lagi aku berpegang dalam batasan kewajaran. Karena sesuatu yang disebut cinta itu, tanpa kenal mengapa, tanpa kenal siapa dan tak kenal waktu, maka aku bisa diam. Meski tak tahu apakah benar ini cinta.

Aku duduk manis memandangmu dari kejauhan.Aku hanya bisa berserah pada waktu. Akankah waktu membawaku kembali ke hari-hari normal ketika sosokmu masih sama seperti yang lainnya. Samar seperti malam, karena kini telah jadi seperti pelangi.

Gundah gulana karena harapanku kian membumbung bersama sosokmu. Lalu karena harus terkatakan agar tak menyesaki ruang dadaku, selain meneriakimu pada malam, kutumpahkan pada sahabat segalanya. Aku bilang aku senang, aku bilang aku bingung, aku bilang aku sedih, aku bilang aku takut dan aku selalu bilang yang sama berulang kali.

Kadang aku bingung pada sahabat, terbuat dari apakah telinga mereka hingga berkali-kali telah kuutarakan hal yang sama dan mereka masih mendengar. Suara mereka pun tak mematahkan harapanku untuk merasai saja apa yang kurasakan seperti air yang mengalir. Menenangkan.

Aku hanya perlu menghargai apa yang kurasai, karena benar hari terlihat indah, semua seakan bewarna dan tertawa padaku. Kau tahu kadang aku seperti orang tak waras, tertawa ketika sedang sendiri tapi tahukah kau karena yang kulihat itu kamu.

Sebelum rasa ini hilang bersama waktu atau akan tetap ada, biarlah rangkaian kata-kata ini penanda bahwa dirimu telah menjadi sumber inspirasi dan semangatku dalam beberapa jejak langkahku.

Hey kamu, teruslah seperti kamu, apapun kamu. Mau Shinichi atau Kogoro, karena tak bisa kutahu mengapa sebabnya bayangmu memenuhi isi kepalaku.

Saturday, April 23, 2011

Sayap

Sebuah tulisan persembahanku untuk Bapak.
“Catatlah semua perjalananmu dalam lembar demi embar buku itu. Setiap hari, apa pun yang kamu temukan di tanah orang. Tanah rantau. Biar nanti ada ceritamu buat bapak,” kata bapak sambil memberikan sebuah buku bersampul hitam. Berwarna keemasan di ujungnya.
Aku tahu buku bertuliskan agenda itu. Mirip punyamu, pak. Buku yang selalu kau pakai untuk menulis di saat senja datang, di ruang tengah rumah kita. Dan kubawakan segelas kopi hangat yang menjadi temanmu.

Aku tertunduk sambil menerima buku itu. Tak ingin menatap mata bapak. Dia duduk di sampingku lalu memintaku untuk menuliskan kata-kata yang di ejanya satu demi satu, dituliskan di halaman depan agar aku dapat melihatnya setiap hari. Di setiap saat ketika aku bercerita untuk bapak.


mirip banget, cuma sampulnya beda, dapat dari http://www.kotakpensil.com/

Dia melambai padaku. Mengantar kepergianku di ujung jalan yang membawaku pergi menghilang dari pandangannya. Di balik kaca bus yang berdebu kukuatkan hati untuk melihat ke depan tanpa menoleh lagi. Aku hanya terisak di sepanjang jalanku ketika mengenang malam demi malam menjelang perpisahan kami. Tak banyak kata seperti ibu, yang menghabiskan siang dan malam membelaiku dengan buaian kata-kata bijaknya agar aku terlelap dan bangun dalam dekapannya.

Bapak dengan bukunya di kursi tengah. Duduk seperti biasanya, seperti tak akan ada seorang gadis yang akan keluar dari pintu rumahnya dengan koper besar. Ah, bapak yang selalu mendukungku. Masih belum kulangkahkan kakiku keluar dari pulau pak, masih di tanah yang sama dan aku telah menulis untukmu. Menulis rasa ketika aku, engkau percayai untuk mengembangkan sayap-sayapku. Sayap yang telah engkau jaga dengan kepercayaan , engkau tumbuhkan dengan cinta.

Bapak, awalnya sayapku lemah ketika kuinjakan kaki di tanah orang. Di sini langit malam berbeda, tak penuh bintang seperti di sana, ketika sedari senja telah kita lihat bintang dan karena hari demi hari yang ada hanya bayangmu dan ibu.


Namun seiring halaman demi halaman buku yang kau berikan padaku, penuh tinta hitam dan menebal, aku tumbuh. Sayapku, pak. Seiring warna keemasan di kedua ujung buku memudar dan memucat, tapi sayapku bercahaya pak. Aku siap terbang merangkai mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi kita bapak, bersama sayap keemasanku.

Mom, Dad, Us, Wig and San
Miss you all badly,
in the day before Easter,









Sunday, April 17, 2011

All about this week_April ceria

Pernah mengalami hal yang bikin spot jantung? Atau pernah mengalami hari yang menggembirakan sekaligus menyedihkan (sebenarnya bukan menyedihkan juga, tapi yah kira-kira membuat jantung kita semakin cepat berdetak)


Seminggu ini saya mengalami pengalaman lucu. Kita mulai dari yang pertama,


Ruang makan dan dapur
Kosan saya merupakan kosan yang sangat nyaman dan tenang untuk ditinggali. Punya taman, di belakangnya, ruangannya luas satu lagi dapat makan pagi gratis.

 Namun dibalik kelebihan-kelebihannya tentunya kekurangannya juga ada. Yah, sering didatangi calon maling. Selama kira-kira tiga bulan ini saya tinggali, hampir beberapa kali pintu kamar saya dicoba untuk dimasuki. Hem, si calon pencuri mengira saya bukan manusia kalong, saya langsung batuk-batuk membuat bunyi-bunyian, sampai nyanyi-nyanyi sedang roommate saya tidur lelap. Tapi tentunya, perasaan takut itu ada.

Nah, masing-masing kamar di kosan pun dibekali dengan sebuah alarm.

“Rosa..., kalau ada yang datang lagi , pencet aja alarmnya. Nanti kedengaran sampai luar di pintu kamar ibu” kata Pak Aat.

Setelah diberi alarm, calon maling masih datang kira-kira di jam 02.00 pagi dan saya tak berani menyentuh alarm. Masih takut apakah saya berhalusinasi saja.

Nah, dua hari yang lalu, roommate saya pulang ke rumah. Saya sendirian. Saya terbangun di pagi hari, kira-kira jam 01.00, membuka netbook saya, mengecek handphone dan mengambil alarm dan menaruhnya di atas tempat tidur.

Saya teringat kalau saya habis ngedownload lagunya si Rihanna vs Britney sehabis baca postingan bang Hoedz . Ternyata lagu itu enak banget didengarnya. Di tengah-tengah lagu, tiba-tiba ada yang manggil dari luar. Suara laki-laki. Bukan manggil saya sih, tapi bikin jantung saya berdetak lebih cepat. Spontan saya mengecilkan volume musik saya, lalu mendengar bunyi alarm dan masih belum sadar kalau itu alarm saya yang berbunyi yang telah membangunkan semua orang di kosan saya. Whoaaaaa...!



Alarm saya tertindih netbook. Wuih, perasaan saya campur aduk. Ah, gimana ini besok. Malu.

Kedua, saya kehabisan ongkos di jalan, saldo ATM saya ga bisa diambil lagi alias kosong. Untungnya di Pasar Minggu. Ceritanya, saya pulang dari Pasar Jumat, terus di panggil buat ngajar. Duit yang saya bawa berlebih tapi karena kurang perhitungan, saya fotocopy bahan banyak banget, padahal belum penting-penting amat.

Wuiiih, alhasil saya minta dijemput. Setelah beberapa kali ganti calon penjemput, untunglah ada yang benar-benar datang menjemput. Tapi dikasih omelan dulu, tapi benar-benar makasih banyak.

“giliran susah aja, gue dipan.gggil”, kata temen saya.

Untunglah selama saya menunggu, ada mas-mas tukang ojek yang ajak ngobrol tapi tetap saja si mas ga percaya saya kehabisan ongkos. Si mas buka sesi curhat.

“Blablablalbla” sampai teman saya datang.Makasih mas.

Nih yang terakhir, saya meninggalkan handphone saya entah di mana dengan mode silent. Pastinya dalam perjalanan dari Ciputat ke Pasar Jumat, karena saya nyadarnya waktu di Deborah(mau balik Depok)

Syukurlah, keberadaan Hp saya sudah diketahui. Hohoho, rupanya terjatuh di mobil teman saya dalam perjalanan dari Ciputat ke Pasar Jumat.
Hem, yang pasti saya belajar banyak dari kejadian-kejadian ini. Ketenangan membuat segalanya lebih baik dan tetap ceria di segala situasi adalah obat yang mujarab.

Selamat menyambut minggu yang baru teman-teman.

Monday, April 11, 2011

Wonderful children world_kami peduli



Nah, akhirnya saya bisa memenuhi janji saya untuk ikut proyek si Ata Buktikan Kalau Kalian Peduli
Makasih ya buat teman-teman yang sudah berpartisipasi. Nah, semoga bantuan kita semua berguna bagi anak-anak yang membutuhkan. Saya suka ekpresi semuanya.

Friday, April 8, 2011

Si roommate ingin kerja

Malam
“Rosaaa...gue pingin kerja Ros.”
“Kenapa tiba –tiba lu ka?”
“Duh, gue bosan. Setelah gue pikir-pikir banyak waktu gue yang terbuang.”
“Lah, lu bukannya banyak banget kegiatannya”
“Iya sih, tapi masa gue ga ngasilin duit”
“Benar banget ka, liat aja si tetangga kosan kita, si Inang(teman gue sejurusan), ngajarnya ke mana-mana. Jauh dekat , ayo aja.  Gue musti mikir berkali-kali. Takut ini, takut itu.”
Diam. Mikir. Besok-besok gue harus terima tawaran ngajar.
“Masa gue minta ma nyokap gue mulu, ma uang modem, ma uang pulsa. Aduh malu gue, masa di rumah Cuma gue doang yang masih nadah sama nyokap gue. Tadi pagi-pagi  abang gue dibangunin buat kerja, lah gue tidur ampe jam delapan.”
“Ya udah, part time lah”

  1. Posenya mirip si kakak( hahahh,)kennyanderica.com

“Iya itu dia. Tau ga lo, tadi pagi gue bangun langsung apply. Baru dua perusahaan. “
“Bagus ka.”
Sepanjang malam, gue baca, ngenet, tidur, si kakak setia depan netbooknya, pasang tampang serius ga mau diganggu.
Pagi. Gue bangun, si kakak udah bangun duluan.
“Gue berangkat ya ka...,lu ga kemana-mana?”
“Ga, stay di kosan gue.
“Tumben”
Siang
“Wah, seharian lu di kosan ka?( pasang muka tak percaya, si kakak emang orangnya sibuk banget, kuliahnya malam, siang rapat, rapat dan rapat serta ngajar)
“Gimana udah ada panggilan?” ( pertanyaan bodoh gue)
“lah, lu gimana sih, dua mingguan biasanya. Oh ya, gue applynya udah ke delapan perusahaan.”
Ckckkck . Gue ga tahan ketawa. Wah si kakak lagi menggebu-gebu. Entahlah, karena faktor umur, sudah 23 tahun dan belum bekerja, apalagi melihat teman-teman sebaya yang sudah mulai mengembangkan karirnya, maka tak heran si kakak ngebet pengen kerja.
Besoknya, pagi-pagi si kakak bangun, berdoa dan  menandai kelender.
“ Kapan yah, gue dipanggil?
 Kalau sampe dua minggu gue ga dipanggil artinya ada dua.   Usaha gue belum terlalu keras dan yang kedua belum waktunya gue kerja”
“Terus” gue udah ga tahan ketawa
“Yah gitu, “
“Lah, gimana sih lu ka. Baru kemarin dikirim, masih ada harapan lah. Masih belum dua mingguan juga.”
Kita tertawa terbahak-bahak, ngerasa lucu sendiri. Nah lo, ada orang yang apply kerja ke delapan perusahaan dalam sehari, terus udah ngarepin kapan dipanggil sehari berikutnya. Dasar.
 Har i itu kami belajar untuk selangkah lebih maju memikirkan kehidupan kami nantinya. Belajar   untuk lebih mandiri lagi, bisa membagi waktu, lebih bersabar, berani mengatasi ketakutan-ketakutan dan bersiap-siap terjun ke dunia kerja, mulai dari mencari dan seabrek prosesnya.

Monday, April 4, 2011

Akhir Pekan

Akhir pekan yang lalu, saya dan teman segeng berhasil mengadakan kumpul-kumpul lagi, setelah beberapa lama kita vakum. Padahal, sebelumnya kita selalu bisa bertemu beberapa kali dalam seminggu. Nah , ini karena teman-teman saya lagi sibuknya menyusun skripsisweet dan ada juga yang non skrip, ditambah lagi perbedaan fakultas membuat kami juga semakin susah mengatur waktu. Yah, antara anak-anak ilmu budaya dan anak kimia. Kalau satunya punya waktu, duanya sibuk. Begitu juga sebaliknya. Biasanya saya dan si A yang suka sibuk. Si B sih sukanya memang kumpul-kumpul, ramai-ramai, maka tak henti-hentinya si B selalu mengompori buat kumpul. Akhirnya setelah beberapa kali di sms, dan memang saya rindu untuk berkumpul. Perasaan saya lagi sangat jenuh dengan kuliah dan tugas-tugas.


Oh ya, Si A kuliah jurusan sastra Cina asal Jawa Tengah dan si B jurusan sastra Rusia asal Jakarta. Kami telah berteman selama hampir beberapa tahun sejak tahun-tahun awal dan hingga sekarang. Perbedaan budaya dan perbedaan jenis kelamin(si A dan B cowok)serta perbedaan karakter dari masing-masing kami membuat kami selalu berselisih pendapat. Namun kita selalu bisa di saat susah dan senang sama-sama. Kalau urusan pinjam meminjam kita selalu masih rukun. Tapi ketemu selalu ada adu mulut. Biasanya akibat yang satunya mau begini, yang satunya mau begitu. Dua-duanya lalu cari-cari pendukung, walau tidak bakal didukung juga. Nah, itu juga yang terjadi kemarin, bukannya bertemu menanyakan kabar tapi malah langsung saling mengejek.

Kemarin kami mengajak putri Oslo(gadis Jakarta asal Solo), teman sejurusan si B buat jalan-jalan ke kota tua( lagi, sering banget ke sini). Janjian dari jam delapan pagi, ujung-ujungnya pergi ke kota jam lima sore. Yah, pilihan kami kalau jalan-jalan di saat kere, kalau bukan Bogor pasti kota tua, soalnya naik kereta Cuma 1500 rupiah sekali jalan. Nah, kebetulan di kota tua ada pertunjukan teater Koma Yang bekerja sama KHI tentang misteri Batavia, olala ternyata yang nonton harus pakai baju berwarna merah. Sedang, baju yang kita pakai berwarna-warni, saya biru, si A putih dan si B kunng ngejreng. Malah si putri Oslo hitam-hitam.

Maka kita pun Cuma keliling-keliling, ngeliatin aktivitas pedagang di sana. Ada banyak sekali pengunjung yang nongkrong, main sepeda, makan , dan menonton beberapa pedagang yang bersemangat menjual dagangannya. Ada juga fotografer dan model. Si B ternyata penasaran dengan permainan memasukan sebuah lingkaran ke dalam botol yang di atas tutupnya di letakan sebuah paku. Jadi, bagaimana kita dapat memasukan lingkaran tersebuat tanpa menjatuhkan paku yang ada di atasnya. Si B mencoba, dan hasilnya tidak membawa pulang apa pun. Harusnya sih bisa bawa pulang hp dan jam tangan. Namun tidak beruntung, so kita menyimpulkan kalau benang yang digunakan masnya lebih berat dibandingkan benang buat pemainnya(hahaha, tuduhana tak berdasar).

Sepertinya kami datang ke kota tua buat makan, karena tak beberapa lama perut minta diisi. Tips makan di sekitar kota tua sih bukan soal makanan, tetapi soal bawa uang receh yang bisa dibagikan buat para musisi jalanan. Soalnya sekali duduk saja, kami kedatangan lima group musisi jalanan.

Masa kita datang ke kota tua Cuma buat makan, pikir saya. Namun karena kaki si A yang bagus buat penuntun jalan, maka kita kembali lagi ke pintu samping museum, tempat teater Koma sedang mengadakan pertunjukan. Rupanya antrian sudah sepi. Eh, tiba-tiba, ada pembagian tiket masuk gratis yang jam 20.00, dan sukses kami berempat duduk manis bersila menikmati pertunjukan beberapa pemain teater koma bekerja sama dengan komunitas historia Jakarta. Pertunjukan ini merupakan kombinasi unik antara animasi dari lukisan di museum Jakarta dan teater Koma.

Perjalanan pulang merupakan bagian yang lumayan menyenangkan, entah karena beruntung atau sudah biasa, kereta ekonomi yang harus kami naiki tidak dapat beroperasi. Jadinya, kami diminta menaiki kereta ekonomi yang AC saja, lah siapa yang menolak. Tapi Cuma sampai Manggarai. Nah, dengan perasaan sedikit cemas, takut kami Cuma salah dengar( si B dan putri Oslo ternyata sudah memastikan, bertany a langsung ke petugas). Oalah, begitu tiba di Manggarai kami langsung turun dan menaiki kereta ekonomi. Eh, tau-taunya diteriakin sama orang-orang, disuruh naik lagi ke kereta AC. Bengong sedikit. Sementara si A sudah naik lagi. Penumpang yang tadinya harus turun pun naik lagi. Nah, sebelum kereta akhirnya benar-benar pergi, kita pun kembali naik. Bingung.