Tuesday, August 23, 2011

I am 22 years old_the day!

God gives a chance to me to still alive till this day. 

22 years ago, I was born, very little Rosa, weak and didn’t know everything

Day by day, I learn everything that appears in my way.

It seems great, I know how to talk, walk, ask, act, eat, anything 

And the real one is I know that it’s only You, God makes everything OK.

 Paint my canvas with many colors. Beautiful, at all.  

Learn. Aware. Try. Brave. Humble

Everything really in your hand, God.
I am just a man, who surrender all of things in You, 

Dreams, plans, daily life, family, friends
 All things


feel the fireworks!
(23 Agustus 2011,genap 22 tahun)


Monday, August 15, 2011

Sharing @Dapur Jajan bersama Kode mobi 1

Hi bloggers!

Dua minggu terakhir yang saya lewati cukup menyenangkan dan tentunya menambah wawasan saya. Seorang teman yang blogger juga, mengajak untuk mengikuti sebuah acara bukber dan sarasehan membangun industri kreatif berbasis penulisan, Blogger meet kode.mobi. Apa sih kode.mobi? pasti penasaran kan teman-teman? Nanti saya post tersendiri deh!

Nah acara yang digelar sama Dapur Jajan ini, menghadirkan tiga pembicara. Pertama mas Agoeng Widyatmoko, yang merupakan pendiri Dapur Tulis dan penulis buku best seller 100 Peluang Usaha UKM. Selain itu mas Agoeng ini juga pendiri Dapur Jajan, yang bertempat di Jalan Dahlia 1 Kelapa Dua Depok. Namanya juga dapur jajan, maka tidak ada makanan berat di sini. Jajanan yang disajikan adalah donat yang dilapisi ice cream,  rasanya kalau minjam istilahnyaGaphe sih Yumilah Yumilawati deh. Mau tahu lebih banyak, main ke sini saja, Dapur Jajan di kode.mobi

Hampir  sama dengan banyak pelatihan penulisan yang pernah saya ikuti, tentunya semangat untuk menulis semakin bertambah. Apalagi mendengar langsung dari sang penulis buku best seller. Namun ada yang berbeda dan baru bagi saya, menarik juga tentunya. Mas  Agoeng mengenalkan suatu cara memperkenalkan diri atau menjalin relasi dengan tidak hanya memberi kartu nama/menyimpan nomor telepon/ email tapi dengan memberi hasil karya kita. Misalnya kita penulis baru, ketika kita hadir dalam acara-acara yang berbau penulisan gitu, kita bisa saja bertemu dengan editor, atau orang dari penerbit. Nah, langsung saja kita berikan print nan karya kita agar lebih mudah diingat. 




Friday, August 12, 2011

Happy Birthday, Wig!

Selamat Ulang Tahun,Wig
16 tahun ya, kamu sekarang
Ayo mari kita bermimpi dan melakukan lebih banyak!

Untuk adik tersayang, Wigbertus Goa Panda
"sa mau kau mendapatkan banyak hal yang lebih baik dari saya."





Thursday, August 11, 2011

Rumput-part2-end

Brakkkkk .  Aku menghempaskan pintu kamarku dengan keras. Ah, daripada aku mendengar lebih banyak pujian tentang Rani. Semua hal baik tentang Rani. Oh Rani kamu memang baik, tapi apakah aku selalu harus jadi bayangmu?

Entah sudah berapa kali aku menangis ketika nama Rani disebut. Aku rela dihukum tapi tanpa nama seorang Rani yang harus kudengar dari mulut ayah dan ibu. Lebih sakit dari pukulan, jeweran atau bahkan tamparan yang harus mendarat di pipiku. 

Aku hanya ingin pelukan dan usapan hangat di ujung rambutku.
Orang kedua yang harus kumaki-maki adalah Rian tapi tetap saja mulutku kelu.  Ah, Rian haruskah kumaki-maki jika hati ini sebenarnya sayang  padamu? Namun apa daya, Rian adalah pencinta Rani. Penganggum Rani. 

Aku bisa terima jika kamu terpesona pada Rani. Yah, kamu normal dan semua lelaki normal pasti jatuh hati pada Rani. Aku sayang kamu dan aku mau kamu bahagia, hingga kamu mendapatkan Rani pun aku tak heran, karena kamu cukup tampan untuk mendampinginya.  Namun kamu hanya salah, mendekatiku untuk lebih dekat pada Rani. 

Aku bukan batu loncatan yang siap menjadi mak comblang kamu dengan Rani. Aku terlalu bodoh untuk percaya bahwa kamu satu-satunya yang paling mengerti aku. Kamu datang di saat yang tepat ketika aku merasa tak ada yang peduli padaku. Tak ada hingga tanganmu yang merengkuhku kuanggap sebagai tangan malaikat tampat yang bersayap dan membawaku terbang. Membawa aku sejenak pergi dari kehidupanku yang menyesakan, dan pergi dari Rani. 

Saat itu kamu paling mengerti hingga aku tarlampau jauh melambungkan harapan-harapanku padamu. Menginginkanmu membawaku pergi, asal bisa bersamamu.
Mimpi. Yah, itu semua hanya mimpi. 

“yaaa, gue Cuma kasian aja sama dia kali. Lagian tujuan gue kan Cuma  mau ngedekatin Rani. Gua Cuma ga bisa aja lepas dari dia.”

Samar-samar suara yang kudengar dari mulutnya berdengung-dengung di telingaku. 
Aku terlampau sakit, hingga dengan diam-diam pun kupergi dari kehidupannya. Aku benar-benar manusia bodoh, tak berekspresi. Aku marah tapi lagi-lagi dalam diamku.
Arrrghhh, sudah berpuluh barang pecah belah kulempari hingga remuk di lantai tapi tak bisa menyembuhkan luka hatiku yang mendalam sejak dulu. Apa yang salah?

Hari ini terang benderang, indah, sejuk dan nyaman. Terdengar kicauan burung dan gemerisik angin di antara dedaunan. Ah, indah. Berkali-kali ucapan syukur terdengar memecah keheningan di sekitarku. Yah, aku ingin berucap di dalam hati saja.

Setahun telah berlalu sejak aku melukai diriku sendiri. Selama beberapa waktu aku dirawat di rumah sakit. Banyak hal yang berubah tapi bukan siapa pun yang berubah. Hanya aku yang berubah. 

Ada banyak yang memang tak bisa diubah namun aku yang mengubah pemikiranku. Yah, Rani tetap harus jadi Rani. Ayah, ibuku pun tetap jadi mereka apa adanya.
Aku hanya perlu jadi yang baru.
-End-

Sunday, August 7, 2011

Lebih dari Sekedar Salah Kereta


                Dia diundang dalam sebuah acara ulang tahun sore itu. Seharian tidak ke mana-mana, membuatnya lebih bersemangat untuk keluar. Cerah dan semuanya tampak lebih menarik. Jadwal kereta pun lebih bersahabat. Memesan tiket ekonomi tujuan Jakarta tanpa bertanya kereta apa yang tiba terdahulu. Duduk menunggu di peron stasiun yang masih tampak ramai tanpa sempat membuka buku Awareness yang selalu dibawanya jika pergi ke mana-mana, karena tidak lama kereta ekonomi datang. Dia naik tanpa mendengar pemberitahuan KRL tersebut membawanya ke mana. Dia yakin, keretanya melewati stasiun yang dia tuju, stasiun Gondangdia. Sejenak ia merasa heran, karena banyak calon penumpang tidak ikut naik bersamanya, padahal keretanya sepi. Mungkin mereka memesan tiket kereta Commuter Line, pikirnya. 

                Satu hal yang  paling mengganggunya jika naik kereta adalah kenyataan bahwa kereta ekonomi tujuan Jakarta-Bogor  tidak memberi perhatian khusus terhadap orang-orang pendek sepertinya, yang tidak bisa menjangkau pegangan kereta. Terlalu tinggi. Namun dia kemudian berteriak kegirangan dalam hati, banyak pegangan yang dicantolkan pada besi-besi di atap kereta itu, seperti di busway. Pandangannya pada PT Kereta Api pun sedikit membaik walau sehari sebelumnya dia kecewa membaca berita tentang anjloknya kereta api yang merugikan(baca: kereta anjlok ). Yah setidaknya mereka pasti akan segera memperbaiki karena mudik Lebaran hampir tiba.
                Perjalanan lebih menyenangkan lagi karena setelah melewati beberapa stasiun dia kemudian mendapatkan tempat duduk. Tidak berebutan. Tidak seperti biasanya, kali ini  dia mendapat suguhan sebuah lagu yang tidak diketahui judulnya tapi cukup terkenal. Tiga penyanyi cilik, dua bocah lelaki dengan okulele di tangan dan seorang menenteng topi yang tengadah. Dia  biasanya akan memberi sepantasnya jika pertunjukan yang dibawakan oleh pemusik jalanan, cukup menghibur dan berkualitas. Wow, dan ketiga anak ini benar-benar tahu caranya bernyanyi. Mereka membagi suara, tidak seperti anak-anak biasa yang baru belajar menyanyi, agak asal dengan suara yang keras. Mereka menyanyi dengan harmoni.  Tak segan dia pun memberi apresiasi dengan lembaran uang terakhirnya, karena pikirnya dia akan segera turun ke tempat tujuan dan menemukan ATM terdekat untuk mengambil uang.
                Tiba di stasiun Manggarai, kereta berhenti lebih lama. Dia tidak berdecak heran atau bertanya-tanya mengapa banyak yang meninggalkan kereta lalu kemudian berdiri di peron seperti menunggu kereta berikutnya. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya, tidak hidup benar pada waktu itu. Kadang kemarin dan kadang masa depan yang dia sendiri tak tahu akan bagaimana.
                Kereta kemudian berangkat lagi. Tidak beberapa lama dia heran melihat pemandangan samping kiri kanannya. Kereta berjalan lambat melewati stasiun yang tidak dikenalinya. Tampak baru dan berwarha hijau. Oh, dan dia agak bodoh memang, berpikir bahwa telah ada stasiun baru antara Manggarai dan Cikini. Pikirannya memang berjalan agak lambat, dan dia selalu menyampingkan hal-hal kecil seperti nama tempat atau jalan yang dilewatinya. Coba kalau dia tahu.
 Wait, dia berubah pikiran lagi. Tak mungkin secepat itu stasiun kereta di bangun. Lagian tidak mungkin. Kemudian kesadarannya kembali, namun kereta telah meninggalkan stasiun itu, stasiun yang kemudian dia ketahui namanya, stasiun Sudirman. Dia ada di kereta yang salah. Kereta ekonomi itu menuju Tanah Abang. Bergegas dia turun di stasiun berikutnya, stasiun Karet.
Oh satu lagi masalah muncul. Uang kertasnya tidak ada, padahal dia harus balik lagi ke stasiun Manggarai(dia lebih memilih Tebet) dan naik kereta ekonomi yang menuju Jakarta. Dia tahu pasti dia Cuma punya Rp.500,00 di kantongnya. Tapi untunglah dia masih beruntung selalu meninggalkan satu  recehan lima ratus di saku tasnya. Satu lagi di dompetnya. What a lucky day! Pas Rp. 1500, 00. Walau butuh waktu hampir sepuluh menit untuk mencari-cari, mengorek-ngorek dalam tasnya. Dia tahu ada beberapa pasang matanya mengawasinya but it was not important if you in that condition, right?
So intinya post ini,  dengarlah informasi sebaik-sebaiknya.  Tanya kalau ada yang aneh atau timbul keraguan.  Ingat isi kantong dan bawalah recehan ke mana pun pergi. Have a nice week, bloggers! 

PS:  Happy birthday to Rm. Hariyanto, SJ ke 57 sekaligus  Kampus Orang Muda Jakarta yang ke 3. Bangga menjadi salah satu bagian darinya.

Thanks to om Vitalis Rangga  (Nagekeo ), great to know you as my silent & faithfully reader. Terimakasih woso. God bless you.

  Thanks to thestral too!




Friday, August 5, 2011

Rumput-part 1


Aku sudah terlampau tua untuk mengeluh, ketika pagi hari mulai, siang datang dan malam pun hendak berganti.  Tak henti-hentinya kata-kata bernada amarah, cemooh dan pesimistis keluar dari mulutku. Ah, mulut yang tak tahu malu. Tak pandai berbicara tapi diam-diam mengumpat.  Terus mengumpat hingga hari berakhir.

Aku melihat dia. Dia cantik, molek, ayu, punya segalanya, dipuja banyak orang baik itu lelaki, dari berbagai kalangan, kakek-kakek  dan brondong sekalipun.  Bahkan tak ketinggalan ibu-ibu, tante-tante dan anak-anak kecil. 

Ah, aku muak. Aku bilang dia berwajah manis tapi berhati jahat. Bermuka dua. Penjilat. Suka cari perhatian,  wajah oke tapi tak berotak dan aku puas.  Oh, biarkanlah dunia melihat dia seperti  mawar cantik yang elok, harum dan mewangi. Tapi aku bilang dia seperti bunga bangkai. Busuk dan bau.

Hei kamu, jangan bilang aku iri dengan segala yang dia punya. Dia memang punya segalanya. Tapi tahukah kamu kalau dia merebut semuanya dariku? Yah, semuanya. Hingga aku tak punya apa-apa. Biar saja dia ambil semuanya, ambil. Perhatian ibuku, perhatian ayahku.

Tahukah kamu bila aku hidup dalam bayang-bayangnya.  Aku terbenam jauh di bawah punggungnya, merunduk. Bertahun-tahun .

“Coba kamu seperti dia , nak. Rajin, pintar, suka membantu, cantik lagi...”suara ibu yang harusnya menenangkanku malah membuat jiwaku remuk.

Aku mencoba berteriak, aku inilah anakmu, Bu. Lihat aku! Tapi apa daya matanya, perhatiannya telah terbagi pada sang putri dan aku hanya bayang-bayang. Tidak sekali, tapi berkali-kali dalam seperempat abad umurku. Siapakah aku? Aku bahkan tidak tahu.

Ayah, aku berusaha menyatakan padamu. Berkali-kali. Lihat aku. Tak cukup dengan kata-kata, karena jiwaku sudah berteriak-teriak marah. Aku kabur dari rumah. Polisi yang menangkapku saja menduga, aku berperilaku karena kurang perhatian ayah, ibu.

Tapi, lagi-lagi yang keluar dari mulut ayah. Rasanya sudah berkali-kali aku dengar.
“Kamu? Dasar anak kurang ajar! Bikin masalah terus. Kamu lihat dong, si Rani. Coba kamu contoh dia....!”

(Sebuah Cerpen yang di post bersambung)

Tuesday, August 2, 2011

Rona

Aku selalu  berpikir bahwa aku adalah kamu yang dulu . Duduk di tepi danau sambil menikmati apa pun yang bisa kita nikmati. Senja. Daun kuning yang berserakan. Angin  yang berembus. Bau air danau yang kehijauan. Rumput yang basah. Hembusan nafas yang teratur. Lepas dan bebas. Kamu tahu bahwa aku sungguh suka saat ini. tak ada banyak kata dan memang tak perlu. Keheningan membicarakan segalanya. Setiap luka serasa diobati perlahan. Aku membiarkannya menganga sejak dulu,menunggu waktu yang membawa pergi. Begitu adanya, karena aku tak bisa memaksa. Perlahan jauh di lubuk hatiku, aku pasrah. Dan tak ada yang lebih indah dari kepasrahan, penerimaan dan pengertian. Setiap sapuan angin di wajah dan rambutku, kini membelai jiwaku juga. Menutup luka yang menganga.
Kamu pasti berpikir, mengapa aku berpikir bahwa aku adalah kamu yang dulu. Rumit memang dijelaskan tapi aku berusaha untuk menjelaskannya. Aku tahu bahwa setiap jalan kehidupan beginilah adanya. Kita berubah setiap saat. Tak ada yang bisa mengingkari ini, seperti sel-sel tubuh kita yang selalu dibarui. Kamu yang dulu adalah segalanya bagiku. Bersinar. Tidak secerah mentari karena akan menyilaukan. Kamu seperti bulan penuh yang menerangi langit malam yang kelam, teduh. Ah, mungkin kamu bilang aku terlalu berlebihan tapi beginilah gambaranku. Tak ada yang lebih sederhana karena kamu selalu tidak sesederhana yang kupikirkan. Kompleks. Kamu yang dulu yang mengalir bagai air dan ringan. Berlari-lari tanpa ketakutan.  Tahu apa pun yang kamu inginkan. Tahu kalau kamu selalu punya jalan sendiri, punya cahaya sendiri tapi tetap berjalan bergandengan. Aku tahu bahwa hidup bagai air yang mengalir atau pun banyak metafora lainnya yang menggambarkan bagaimana hidup itu. Namun belajar sembari hidup itu yang kupelajari. Aku selalu tidak suka belajar. Tidak mau mengerti. Kamu tidak pernah memaksaku untuk mengerti, tidak mendoktrinku. Itu juga yang membuatku bingung karena aku selalu ingin kamu memberi jawaban. Meski kadang aku lagi-lagi tak ingin paham mengapa harus terjadi seperti adanya.
Kamu membuat aku bingung. Di satu sisi ada kekecewaan besar menebas leherku seperti pedang. Kamu tak ingin aku seperti kamu yang dulu. Oh, wait!Why? Aku harus sendiri. Berjalan dengan kedua kakiku. Melihat dengan kedua mataku. Berpikir sekehendakku. Itu yang kamu inginkan? Hey, selama ini aku begitu. Tapi kamu bilang aku menipu. Aku tak pernah begitu.
Aku diam dalam amarahku. Menghindar dan pergi jauh untuk menghempaskan kata-kata itu dari pikirku. Ah, semakin aku menolak, mereka bernama masalah datang dan menyuruhku untuk segera menyelesaikannya.
Di tepi danau ini bertahun sejak terakhir aku bertemu kamu. Aku tahu apa yang kamu maksud. Aku menemukan jawabannya. Aku di sini. Duduk di tepi danau sambil menikmati apa pun yang bisa kita nikmati. Senja. Daun kuning yang berserakan. Angin  yang berembus. Bau air danau yang kehijauan. Rumput yang basah. Hembusan nafas yang teratur. Lepas dan bebas. Tidak lagi berpikir bahwa aku seperti kamu di waktu muda. Aku, hanya aku. Aku sadar. 

(Pada pagi ketika beberapa malam kelam)