Sunday, May 25, 2014

E book reader, please!

Semalam saya masih teringat sama e book reader, setelah beberapa waktu berhasil memendam keinginan untuk punya.
Saya tertarik dengan Kindle paperwhite milik Amazon yang agak murah dibanding seri kindle lainya karena saya juga tidak begitu membutuhkan banyak aplikasi. Sebenarnya yak, murah kindle nya tapi sayang tidak dijual di Indonesia. Bisa dapat kobo atau kindle dibawah satu juta. Kalau di www.tokoebookreader.com, harganya tentu saja lebih mahal. Mau bagaimana lagi, bea cukai dan shippingnya. Kalau punya duit, sebenarnya tidak masalah hahahaha beli lebih mahal. Namun keuangan saya memburuk, akibat membeli tiket pulang tiba-tiba. But worth it lah, ketemu keluarga :-D
Kobo juga bagus tapi entah mengapa dari beberapa review, lebih bagus kindle.Namun kobo touch reader juga jadi incaran saya. Dulu saya malah mau Nook karena designnya.
Kalau dihadiahkan, saya mah mau-mau saja, merek apa pun yang penting e-ink.
Saya bukan maniak gadget tapi gadget yang satu ini lain. Khusus untuk membaca dengan tinta e-inknya yang berasa baca di buku. Sudah pasti bisa dibawa kemana-mana dan baterenya tahan lama karena emang cuma buat baca. Ini yang membedakan dari tablet yang dilengkapi beragam aplikasi.
Untuk menghibur diri, maka tadi pagi-pagi masih dengan gambar kindle di kepala dan desahan panjang khas desperate, saya bilang, "ah Rosa, beberapa tahun lagi kamu mungkin bisa beli langsung di tokonya. Mungkin suami kamu orang Amerika, atau kamu dapat beasiswa ke Amerika. Who knows? #wwkkk

Oh I want an ebook reader, please:-D

Wednesday, May 14, 2014

Sedikit review untuk Kukila



Kumpulan cerpen milik Aan Mansyur dalam Kukila, tidak bisa untuk dilewatkan begitu saja. Saya suka kesederhanaan dalam tiap tiap cerita meski ada beberapa konflik rumit namun tetap kesederhanan menjadi ciri khas isi cerita dan pilihan kata. Saya juga suka mengeja Kukila, dan menarik ketika selalu membaca nama beberapa tokoh Kukila dalam cerpen ini.

“Masa lalu tidak pernah hilang. Ia ada tetapi tidak tahu jalan pulang, untuk itu ia menitipkan surat.”
(grrrrr, kalimat ini sesuatu sekali. :D. Rumit untuk menjelaskan perasaan dan apa yang saya pikirkan ketika membacanya. Ahaaa, sekali! )

Dari semua kumpulan cerita pendek Kukila milik M.Aan Mansyur, saya pilih satu cerpen "Aku selalu bangun lebih pagi".  

Kisahnya segar dan terkesan mendalam bagi saya walau kisah ini sangat sangat sederhana. Saya suka pilihan katanya.  Tidak terlalu rumit seperti isi cerpen berjudul " Kukila"  yang memuat konflik yang berani dan terbuka. Mengapa? karena berani memuat cerita yang masih tabu. Namun saya tetap suka pemilihan katanya.

Kembali ke cerpen pilihan saya,Aku selalu bangun lebih pagi memuat cerita dua orang anak muda yang salah menafsirkan sapaan dan tingkah laku.Ini selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari bukan?
Jadi pagi seorang "aku" selalu dimulai dengan sapaan seorang gadis dengan "baru bangun, kan?" Tidak sekali, dua kali tapi setiap kali mereka ketemu di perpustakaan tempat sang "aku" membuka usaha. Tentu saja si "aku" bete, karena "aku" selalu bangun pagi-pagi sekali sedang sang gadis selalu menyapanya kira-kira di setengah sepuluh pagi.Tentu saja si "aku" kemudian berpikir jika si gadis tidak kreatif karena sapaan yang itu itu saja dan menganggap itu hanyalah basa basi klise.

Saya yang ketika itu membaca, tertawa karena  menyimpulkan hal yang sama bahwa si gadis memang tidak kreatif. Basa basi klise.  Ini berbeda dari basa basi klise seperti biasa yang kita dengar.
Tidak merujuk ke hal yang memang sedang berlangsung, seperti seorang yang mengenakan pakaian kantoran seperti biasanya dengan tas kerja, kemudian disapa, " ke kantor ya?' Begitulah  klise memang tapi itulah cara untuk membangun hubungan baik dengan orang lain. Namun si gadis , jelas -jelas tidak merujuk pada situasi yang sedang berlangsung membuat si "aku" kesal karena dianggap pemalas yang selalu bangun siang. 

Kemudian saya berpikir karena jelas kisah bertema cinta dan problemanya,  bahwa si gadis  pasti ingin memberi tahu secara tersirat, kira-kira begini,
"karena kita tidak seatap, saya ingin meyakinkan diri saya, kalau yang kamu lihat pertama kali tiap pagi itu saya.”

 Ok, baiklah sekian review  yang tidak sempurna untuk Kukila. Baca dan rasakan sendiri bagaimana kukila membuatmu tersenyum dan tentunya berpikir. 


Last but not least, yesss tomorrow is holiday. Happy Vesak day 2558, to all of friend who celebrate it. 

Tulisan ini memeriahkan program #NTTGemarBaca  dari kawan-kawan @flobamorata dan Komunitas Blogger NTT jelang HARI BUKU NASIONAL 2014 #HBN2014 tanggal 17 Mei 2014. 



 

 



Tuesday, May 13, 2014

Menikmati Luka

credit to http://www.shutterstock.com/
dan karena sekian kali
aku kembali terbangun di kala terang belum secercah
masih dengan sisa kisah yang menggantung entah di ujung mata
karena luka yang mengikis pelan, tak pernah benar hilang

dan karena sekian waktu
potongan potongan gambar itu masih menuntut untuk dilihat
masih dengan memudarnya warna oleh usia
karena meski tidak sempurna, rasa itu seperti beranak pinak

biar kuceritakan, sesuatu itu ketika itu adalah kita di tempat itu
dengan rasa yang itu itu, bahagia dan luka itu
dan sekian rasa
dan sekian gerak
dan sekian drama
melebur
tinggalkan

aku
kamu
kembali ke sekian luka dan rasakan
nikmati
biar kita akhiri kisah yang menggantung di pagi
biar siang mendapat terangnya sempurna

Thursday, May 1, 2014

Suatu Sore

bising dan asing
dalam diam dan lari lari 


langit biru yang mulai gelap
dan sinar yang tinggal secercah
membungkus lipatan-lipatan harapan dalam koin-koin kecil lima ratus rupiah
tenggelam dalam narasi panjang lamunan
ada asa dan ketakutan yang berdiri sama tinggi

dan Tuhan memberi sebanyak permintaanmu

(Jakarta, 2014)