Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Mini Fiksi

Kirimi aku surat (Minifiksi)

Aku  masih berharap bahwa kamu akan mulai menyuratiku sementara aku terus menulis suratku padamu. Tak berbalas setelah sekian lama. sources: google  "Kamu masih terus berkutat dengan kertas-kertas itu?", kakak perempuanku menepuk punggungku dari belakang. Aku tentu tidak kaget lagi. Sudah sejak tadi, aku mencium kehadiranya mengintai tepat di belakangku. "Ih, parfumnya, please bisa yang lebih " soft " "Biasa aja kali...Hari gini mana ada yang mau capek-capek tulis surat. Kamu harus balik lagi ke jaman batu." sahutnya sambil merebahkan diri. Aku kembali menekuni suratku. Aku ingin kamu tahu, aku tidak cepat menyerah untuk percaya bahwa suatu hari kamu akan membalas surat-suratku. Aku bukannya tidak kekinian.Kamu tahu, aku punya semua kontakmu. WA, Line, Facebook, BBM, instagram, bahkan  Friendster dan YM,   medsos jadul yang aku tahu dahulu sekali. Aku bisa saja menyapa tapi aku seperti sudah tahu isi pesan-pesan itu. Aku selalu mengang...

Kita

Kita Semacam menguasai telepati Lalu senyum tersipu Menunduk Nyengir pada tanah (Jan, 2015) Cats, pic source

Rumput-part2-end

Brakkkkk .   Aku menghempaskan pintu kamarku dengan keras. Ah, daripada aku mendengar lebih banyak pujian tentang Rani. Semua hal baik tentang Rani. Oh Rani kamu memang baik, tapi apakah aku selalu harus jadi bayangmu? Entah sudah berapa kali aku menangis ketika nama Rani disebut. Aku rela dihukum tapi tanpa nama seorang Rani yang harus kudengar dari mulut ayah dan ibu. Lebih sakit dari pukulan, jeweran atau bahkan tamparan yang harus mendarat di pipiku.  Aku hanya ingin pelukan dan usapan hangat di ujung rambutku. Orang kedua yang harus kumaki-maki adalah Rian tapi tetap saja mulutku kelu.   Ah, Rian haruskah kumaki-maki jika hati ini sebenarnya sayang   padamu? Namun apa daya, Rian adalah pencinta Rani. Penganggum Rani.  Aku bisa terima jika kamu terpesona pada Rani. Yah, kamu normal dan semua lelaki normal pasti jatuh hati pada Rani. Aku sayang kamu dan aku mau kamu bahagia, hingga kamu mendapatkan Rani pun aku tak heran, karena kamu cukup tampan untuk m...

Rumput-part 1

Aku sudah terlampau tua untuk mengeluh, ketika pagi hari mulai, siang datang dan malam pun hendak berganti.   Tak henti-hentinya kata-kata bernada amarah, cemooh dan pesimistis keluar dari mulutku. Ah, mulut yang tak tahu malu. Tak pandai berbicara tapi diam-diam mengumpat.   Terus mengumpat hingga hari berakhir. Aku melihat dia. Dia cantik, molek, ayu, punya segalanya, dipuja banyak orang baik itu lelaki, dari berbagai kalangan, kakek-kakek   dan brondong sekalipun.   Bahkan tak ketinggalan ibu-ibu, tante-tante dan anak-anak kecil.   Ah, aku muak. Aku bilang dia berwajah manis tapi berhati jahat. Bermuka dua. Penjilat. Suka cari perhatian,   wajah oke tapi tak berotak dan aku puas.   Oh, biarkanlah dunia melihat dia seperti   mawar cantik yang elok, harum dan mewangi. Tapi aku bilang dia seperti bunga bangkai. Busuk dan bau. Hei kamu, jangan bilang aku iri dengan segala yang dia punya. Dia memang punya segalanya. Tapi tahukah kamu kalau dia m...

Rona

Aku selalu  berpikir bahwa aku adalah kamu yang dulu . Duduk di tepi danau sambil menikmati apa pun yang bisa kita nikmati. Senja. Daun kuning yang berserakan. Angin  yang berembus. Bau air danau yang kehijauan. Rumput yang basah. Hembusan nafas yang teratur. Lepas dan bebas. Kamu tahu bahwa aku sungguh suka saat ini. tak ada banyak kata dan memang tak perlu. Keheningan membicarakan segalanya. Setiap luka serasa diobati perlahan. Aku membiarkannya menganga sejak dulu,menunggu waktu yang membawa pergi. Begitu adanya, karena aku tak bisa memaksa. Perlahan jauh di lubuk hatiku, aku pasrah. Dan tak ada yang lebih indah dari kepasrahan, penerimaan dan pengertian. Setiap sapuan angin di wajah dan rambutku, kini membelai jiwaku juga. Menutup luka yang menganga. Kamu pasti berpikir, mengapa aku berpikir bahwa aku adalah kamu yang dulu. Rumit memang dijelaskan tapi aku berusaha untuk menjelaskannya. Aku tahu bahwa setiap jalan kehidupan beginilah adanya. Kita berubah setiap saat. Tak ...