Tuesday, September 17, 2013

Fact a

Actually, I do choose the persons who I share my "whatever" thinking. I do choose who I just can't. Just realize it.

Tuesday, September 10, 2013

Chevening Schoolarship

Saking exited-nya saya membaca pengalaman rekan-rekan schoolarship hunters yang telah mendapatkan beasiswa,
saya pun bermimpi sejenak menginjakan kaki di tanah Britania Raya.

Hadehh, kapan menjadi kenyataan.
Ayo teman-teman apply beasiswa chevening, bisa apply online ke sini dan jika mau ikut merasakan pengalaman schoolars yang sudah berhasil,
silahkan googling, banyak schoolars yang berbaik hati berbagi cerita.

Nah, saking mendalami cerita-cerita para schoolarship saya biasanya menitikan air mata karena terharu, bikin merinding dan yah yah yah
saya tahu bagaimana mereka berjuang, meski tidak tahu detailnya tapi saya tahu rasanya. Sampai terbawa mimpi pula,  itu sesuatu!
Saya apply meski secara kriteria, saya belum genap bekerja minimal 2 tahun, karena syarat utamanya adalah bagi mereka yang sudah bekerja minimal 2 tahun.
Namun tidak menjadi masalah rekan sekalian, karena yang penting adalah usaha, semangat dan doa.

Mari tetap semangat teman-teman, apply-apply- apply!

 

Selamat jalan Bp. Elias Ndiwa

Pagi ini, kami sekeluarga menerima berita duka atas kepergian bapa besar tercinta, Elias Ndiwa,
beliau mempunyai kenangan tersendiri bagi keluarga kami,
terutama untuk ayah saya.
 
Ayah saya dulu menjadi tanggungan beliau ketika merantau dan  ayah saya cukup dekat dengan beliau. 
Secara pribadi, saya pun mengenal beliau dengan baik, sebagai bapak yang penuh dengan kasih sayang, untuk keluarga besarnya. 
Waktu kecil, di usia sekolah, saya selalu disupport untuk prestasi-prestasi kecil saya, kalau beliau datang berkunjung kami pasti dapat oleh-oleh atau pun uang.
Terakhir, saya bertemu beliau ketika perjalanan perdana saya ke Kupang, Maret 2012. Tidak sesehat sebelumnya karena menderita sakit tetapi kami bisa mengobrol.
Waktu itu, saya disuruh untuk tetap tinggal karena ada info lowongan kerja yang akhirnya saya lewatkan karena tiket pesawat ke Ende sudah saya beli.
Beliau masih memikirkan kepentingan saya, dengan tetap menyarankan untuk menunggu namun saya memutuskan untuk pulang. 
 
Saya yakin beliau pergi dengan bahagia karena meninggalkan generasi penerusnya dengan modal yang cukup, pendidikan dan keberhasilan anak-anaknya. Beliau jalan dengan bahagia.
Semangat kasih dan kekeluargaan yang beliau tunjukan akan menjadi bagian hidup yang saya pribadi teladani.
Selamat jalan, bapa Elias Ndiwa.
 
 

Thursday, September 5, 2013

Religius saja tidak cukup

"Walaupun kita berbeda tetapi mereka mengajarkan "humanisme", masalah agama mah itu saya pikir dari kita keluarga, kalau keluarga kita benar-benar mendidik anak, insyaallah anak kita agamanya bagus," demikian ungkapan seorang bapak tukang ojek yang sedang membonceng saya dan mba T.
Kali ini kami pulang lebih malam, saya menyempatkan diri mengantar mba T ke rumah sakit karena dia sedang terkena alergi, gatal-gatal tanpa sebab sampai bibirnya mirip Angelina Jolie :-D. Pilihan kami jatuh pada rumah sakit Cinta Kasih milik yayasan Buddha, dia mendapat rekomendasi dari rekan kerjanya yang pernah ke sana karena ada spesialis dokter kulitnya. Saya pun mendukung karena selama ini saya cuma menonton lewat siaran DAAI TV saja, ingin melihat dan tahu langsung.
Akhirnya kami sampai lokasi dan ini adalah rekor karena berjalan kaki dari depan mall Taman Palem, menolak tawaran beberapa tukang ojek yang mau mengantar kami. Saya sih lebih senang berjalan kaki, sambil bercerita karena kami pikir dekat. Eh taunya lumayan, olahraga. Rupanya dokter spesialis kulitnya sudah pindah dan karena nomor antrian dokter umum masih panjang, mba T memutuskan untuk berobat di klinik yang bermitra dengan kantor. Namun kami cukup puas karena telah mencoba datang dan melihat-lihat rumah sakit
Tzu Chi ini.
Si mba T merasa agak malu-malu gimana gitu karena cuma dia yang berbeda (memakai jilbab) dan saya pun bilang, tenang mba T, saya juga bukan Buddha.
Pelajaran berharganya datang ketika kami pulang setelah makan malam yang mengenyangkan, menaiki ojek GTO, yah saya selalu menjadi korban, ditengah (hahaha). Untunglah mba T  badannya tidak seperti mama saya. Kami mengobrol ramai  dengan sang bapak yang menurutku tampilannya sangat religius, dengan kopiahnya yang bundar, sampai ke obrolan soal rumah sakit Budha dan pendidikan anaknya.
Rupanya beliau menyekolahkan anaknya di yayasan Buddha dan menjelaskan kenapa beliau menyekolahkannya di sana, menurutnya ajaran mereka lebih humanisme dan dia tidak takut anggapan kalau-kalau anaknya terpengaruhi karena menurutnya itu tergantung ajaran keluarganya. Kalau keluarga memperhatikan keimanan anaknya, dia yakin benar bahwa menyekolahkan anak ke tempat yang beda latar belakang agama bukan masalah, yang penting humanismenya. Lebih lagi dia tidak ingin anaknya terkena pergaulan bebas anak-anak usia remaja kalau di yayasan bisa lebih disiplin, tambahnya.
Saya pun terkagum-kagum sama bapak ini. Saya yakin, dia sudah mencapai tahap spiritualitas keimanan atas agamanya, tidak saja religius. Semoga makin banyak orang yang memiliki sikap spiritualitas yang baik tidak saja sekedar religius.