Wednesday, March 23, 2016

Don't think others smaller than you

Beberapa dari kami teman-teman lama,  sharing dan  bercerita. Dulunya kami bersama dalam kurun waktu yang lama dan lingkungan yang kurang lebih sama, demikian pula latar belakang kami. Mahasiswa dari kampung yang tetiba di kota dan survive dengan adaptasi,   Itu tahap satu.

Lalu tibalah kami di tahap dua. Bertemu  orang-orang baru dengan latar belakang sama dari kampung. Lalu ternyata banyak bedanya. Teman saya bercerita bahwa dia  ilfil  dengan beberapa kelakuan teman-temannya itu. Serba sok. Sok karena sebentar lagi mereka akan menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Sok karena mereka lebih pintar dan lebih apa-apa dari anak muda kebanyakan. Saya tentu bisa membayangkan bagaimana perilaku mereka. Beberapa yang saya temui memang begitu. Menjadi susah untuk diskusi dan didekati, misalnya karena masing-masing punya ego tinggi.

Akhir diskusi kami adalah bahwa teman-teman ini memang baru dapat rejeki. Jadi perilakunya masih semacam shock begitu. Mereka belum ketemu banyak orang, belum banyak pengalaman.
 Teman saya,  senior saya ini, sudah punya pengalaman seabrek,  berkomunikasi lintas daerah dan negara, dan kece sekali. Pantas, dia menyayangkan  putra putri daerah ini terlalu sombong dan bahkan kesukuan masih tinggi, padahal ketika bertemu banyak orang  adalah saat kita mengosongkan diri, dalam artian belajar banyak dari orang lain. Bisa dengan mendengarkan, sharing dan gaya bicara sederhana.

Saya menulis ini karena ini bisa jadi PR buat saya. Mengingatkan diri sendiri sebagai pribadi lemah. Beberapa dari kami ketika di tahap satu,  cukup beruntung, karena  menjadi minoritas mendesak kami banyak belajar dan bergaul dengan orang-orang yang pencapaiannya lumayan namun selalu tampil apa adanya. Dari situ kami belajar.

Obrolan kami juga sebenarnya bisa salah. Mungkin kami salah menilai atau kami yang terburu-buru men-judge. Bisa begitu, semoga kita sama-sama belajar jadi orang baik dan berguna yang makin merunduk.

Tuesday, March 22, 2016

Fenomena Generasi Y

Mari buka dengan merefleksikan, keadaan yang saat ini lagi hot-hotnya, sopir taksi beberapa nama taksi di Jakarta  melakukan aksi demo yang agak brutal terhadap beberapa pesaingnya, yang merupakan pesaing jenis baru. Meminjam beberapa topik hangat saat ini, era digital memang menyakitkan bagi perusahaan besar yang dulunya melakukan monopoli. Mereka besar, satu-satunya dan sangat dibutuhkan waktu itu, dulu, ketika dunia teknologi belum berkembang. Sekarang? Generasi baru, generasi teknologi generai Y. Apa-apa online. Tadi pagi saya baca kolom Kompas, tulisan pak Rhenald Khasali yang sudah cerita detail soal fenomena tersebut. Sekarang ini zamannya, "Sharing Economy" , katanya. Tentu saja banyak pro dan kontra dari orang-orang lama yang melakukan penguasaan ekonomi, misalkan PT xxxxbird dan express lainnya. Konsumen mereka beralih.

Siapa sih yang harus bertanggungjawab? Dari hasil pantengin beberapa forum diskusi dan kultwit orang-orang kece di twitter dan group wa, memang seperti biasa belum ada regulasi yang baik soal dunia teknologi. Katanya regulatornya juga gagap menanggapi. Sedihnya itu ketika sopir taksi mungkin hanya korban provokator. Ya, ya kita ga bisa bendung perkembangan teknologi. Zaman SMP, hp Nokia terkenal sekali dan waktu itu saya belum punya hp. Hp bapak kebetulan nokia,kenalan juga banyak pakai nokia. Pokoknya, rasanya seperti ga beli hp, kalau ga beli Nokia.
Saya punya hp, ketika baru masuk kuliah, saat tinggal jauh dari orang tua. Nah, waktu itu pertama kali beli hp, sudah pasti Nokia jadi pertimbangan, namun dengan alasan terlalu merakyat, saya pilih LG.


Ke manakah Nokia sekarang? Pidato terakhir CEO Nokia yang terkenal, "we didn't do anything wrong, but somehow we lost" . Well, jawabannya sudah tentu bisa dibalikin, yah karena itu, karena tidak melakukan apa-apa, mandek di tempat.

Mari ambil pelajaran.

Friday, March 4, 2016

Tugas membaca & menulis


source: google images 
Baiklah saya harus mengakui kalau saya "kangen" menulis. Ini membuat saya lebih sehat, lebih hidup dan lebih bergairah. Banyak kisah di Februari yang harus diceritakan agar tidak lupa dan bisa jadi pembelajaran. Saya sering lupa,sering sekali, entahlah mungkin faktor umur. 


Beberapa minggu lalu di Februari, anak TL kehilangan seorang dosen yang menginspirasi. Namanya pak Doni. Meski baru beberapa kali pertemuan dengan beliau, tapi berkesan. Berkesannya bagaimana? 
Beliau ini masih suka meminta mahasiswa mengumpulkan tugas tulis tangan tentang opininya. Saya sukaaa walau malas sekali mengerjakan apalagi tulisan tangan saya susah dibaca. Mengapa ini penting untuk mahasiswanya? Beliau mengatakan bahwa ini penting agar kami bisa mengeluarkan opini sendiri yang otentik. Harapannya, mahasiswa bisa melatih menulis dengan baik dan tulisannya dipublikasikan.  Yah, baiklah, selamat jalan pak Doni. Semangat mengajar, bapak akan menginspirasi. 

Februari sudah berakhir, dan saya tiba di Maret yang memberi harapan. Yah, harapan. Dalam dua tahun berkuliah ini, saya menargetkan untuk dapat stempel baru di passpor. Sayang, kalau cuma dokumen kosong tanpa banyak stempel. Meski saya mendapat beasiswa yang cukup bisa buat #nabung beli tiket,  tapi apa daya ada sekian urusan yang lebih prioritas.  Nah, ada banyak cara untuk sampai ke Roma. Saya sedang bikin aplikasi untuk jalan-jalan ke luar 50 % gratis atau sejenisnya. Memang ribet sih, tapi setidaknya saya berusaha. Lulus atau tidak aplikasinya, saya tidak akan penasaran. Semoga lulus yak, biar ada sambungan ceritanya. 

Hidup saat-saat ini membawa banyak pertanyaan di benak saya. Tuhan banyak menunjukan saya ketidakadilan di mana-mana, dan setiap kali saya menjadi sedih karenanya. Tubuh tua yang semangat kerja, mendorong gerobak barang bekas, atau bapak-bapak buruh harian yang terus berjalan, lalu berenti jika ada pekerjaan. Nah yang menyedihkan itu sebenarnya saya. Iya. Kurang bersyukur. Baiklah, ini perenungan. Semoga tidak berlarut-larut. 

UTS di depan mata dan oh saya sudah jarang membaca. Bacaan-bacaan saya belum banyak aspek lagi seperti waktu itu masih di Komjak dan beberapa tahun sesudahnya. Saya benar butuh update & upgrade diri, biar tidak mengulang kesalahan mas Tere Liye, yang juga masih punya banyak PR membaca.