Skip to main content

Cikal Bakal

Judul di atas merupakan judul salah satu bab dari buku "Dunia Tanpa Suara" yang baru saya beli sewaktu kunjungan ke Depok.  Bab ini merupakan bab yang cukup bikin saya kalem dan "aware" seharian. Mengapa?

Adalah pengisahan  dengan indah cikal bakal semesta yang kemudian dicontohkan dengan  bagian sederhana namun kompleks dari bagaimana manusia ada. Dari banyaknya sel sperma ayah kemudian bertemu dengan sel telur ibu dan menjadi satu. Kemudian dari satu itu terjadi ratusan pembelahan sel sehingga seorang manusia utuh tercipta.

Penciptaan yang luar biasa dari sang  maha karya. Manusia, satu dari sekian banyak makhluk hidup lain. Masing-masing ada yang di air, udara, tanah, gunung, lautan membentuk suatu kesatuan yang selayaknya saling menjaga. Untuk itulah kita hidup berdampingan.

Cikal bakal mengantar saya pada realita saat ini. Secara nasional, bangsa boleh dibilang mengalami kemunduran. Nilai-nilai kebhinekaan yang dulu dibanggakan mulai diurai urai berdasarkan warna. Namun saya tidak boleh pesimis, karena ini hanya riak dari politik semata. Masih banyak orang beriman yang toleran di luar sana. Kita selayaknya selalu bercermin, melihat kembali ke belakang
Toh pada dasarnya kita semua adalah manusia dengan cikal bakal sel sperma dan sel telur yang mengalami proses pembelahan sel selama sembilan bulan di rahim ibu. Kemudian ada kuasa luar biasa yang kita imani sebagai Tuhan. Menghidupkan dan memberkahi.

Jadi jika kita kembali ke cikal bakal, kita akan dapat mengerti satu sama lain. Menghargai satu sama lain. Mencinta satu sama lain.

(Isi terinspirasi "Dunia Tanpa Suara" W Mustika)

Comments

Popular posts from this blog

Penghargaan bagi lansia

"karena mereka tua oleh waktu tapi kenalilah sejenak masa mudanya" Sumber:http://ibnumada.files.wordpress.com/2010/04/nenek.jpg  Kini kita masih muda lalu menjadi tua secara perlahan-lahan karena waktu yang kian beranjak, Kadang kita suka menyangkal ketuaan kita( hahahaha, suka ngaku-ngaku masih 17, iya ga??)  Lihatlah, sekian banyak kerut di dahi, keriput wajah dan mata yang berbicara tentang kisah hidup yang telah dilewati. Suka dan duka. Di Jepang diadakan satu hari libur besar untuk menghormati para lansia yang diistilahkan Keirou no hi      untuk menghormati kerja keras dari para lansia ini. Upacara ini diperingati setiap hari Senin, mingggu ketiga bulan September. Saya merasa bahwa penghargaan bangsa Jepang terhadap para lansia sangat besar sampai hari itu diliburkan apalagi hari Senin. Saya bertanya-tanya, di Indonesia ada ga ya? Setelah browsing ternyata di Indonesia juga diperingati hari Lansia, tanggal 29 Mei menurut UU no 13 tahun 1998 lo...

Antara Perpustakan Online & Buku

http://www.ehow.com/about_5586302_laptop-radiation-effects.html Beberapa waktu yang lalu, saya tergelitik dengan sebuah pembicaraan sambil lalu tentang perpustakaan. Yay, seorang pengajar  muda saya mengatakan bahwa, di era sekarang ini, orang lebih menyukai untuk menikmati membaca di perpustaan online, bisa download e-book atau sekedar browsing informasi di Mbah google .  Saya pun berpikir demikian, yah, tinggal search key word nya langsung muncul sederatan informasi yang kita butuhkan. Sekali klik saja bukan? Lagian dengan semangat go green , saya  lebih menyukai soft copy dibanding harus membuat sebuah hand out walau saya  tidak bisa menandai bagian-bagian penting yang harus saya ingat dalam membaca.  Demikian pula dengan seorang teman di samping saya , yang tiba-tiba nyeletuk , “ Ah, lebih enak pake buku bu, ga sakit mata.” ”Iya sih, tapi kebanyakan orang sekarang ingin cari jalan yang lebih singkat, dan dapat menghemat waktu di tengah aktivitas ...

Saya, Kamu dan Alam (Sahabatkah?)

“Karena kita tidak hidup seribu tahun lagi tapi alam bahkan akan ada beribu-ribu tahun lagi” dok pribadi:Dipotret dari nyamanya kursi bus dalam perjalanan Jawa-Bali, July 2010 Saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan alam saya dan alam anda seribu tahun lagi. Bukan tidak mungkin untuk menjadi sangat berbeda dengan bumi yang kita tinggali sekarang, yang bahkan kondisinya memprihatinkan.  Generasi   kita selanjutnya mungkin akan mengenakan masker untuk menghalangi radiasi yang dapat merusak langsung kulit karena lapisan ozon yang membolong. Mengapa? Ah, saya yakin anda dan saya pasti bukan nenek moyang yang baik bagi penerus kita. Bukan seperti nenek moyang kita yang dalam sejarahnya menghasilkan penemuan-penemuan yang membantu kita kini. Kita akan dicap sebagai neneng moyang masa perusakan.  Tidak adil memang, karena masih ada sebagian besar orang yang pada masa ini yang menyerukan perbaikan pada alam ,menunjukan persahabatan pada alam dan mengh...