Skip to main content

Lebih dari Sekedar Salah Kereta


                Dia diundang dalam sebuah acara ulang tahun sore itu. Seharian tidak ke mana-mana, membuatnya lebih bersemangat untuk keluar. Cerah dan semuanya tampak lebih menarik. Jadwal kereta pun lebih bersahabat. Memesan tiket ekonomi tujuan Jakarta tanpa bertanya kereta apa yang tiba terdahulu. Duduk menunggu di peron stasiun yang masih tampak ramai tanpa sempat membuka buku Awareness yang selalu dibawanya jika pergi ke mana-mana, karena tidak lama kereta ekonomi datang. Dia naik tanpa mendengar pemberitahuan KRL tersebut membawanya ke mana. Dia yakin, keretanya melewati stasiun yang dia tuju, stasiun Gondangdia. Sejenak ia merasa heran, karena banyak calon penumpang tidak ikut naik bersamanya, padahal keretanya sepi. Mungkin mereka memesan tiket kereta Commuter Line, pikirnya. 

                Satu hal yang  paling mengganggunya jika naik kereta adalah kenyataan bahwa kereta ekonomi tujuan Jakarta-Bogor  tidak memberi perhatian khusus terhadap orang-orang pendek sepertinya, yang tidak bisa menjangkau pegangan kereta. Terlalu tinggi. Namun dia kemudian berteriak kegirangan dalam hati, banyak pegangan yang dicantolkan pada besi-besi di atap kereta itu, seperti di busway. Pandangannya pada PT Kereta Api pun sedikit membaik walau sehari sebelumnya dia kecewa membaca berita tentang anjloknya kereta api yang merugikan(baca: kereta anjlok ). Yah setidaknya mereka pasti akan segera memperbaiki karena mudik Lebaran hampir tiba.
                Perjalanan lebih menyenangkan lagi karena setelah melewati beberapa stasiun dia kemudian mendapatkan tempat duduk. Tidak berebutan. Tidak seperti biasanya, kali ini  dia mendapat suguhan sebuah lagu yang tidak diketahui judulnya tapi cukup terkenal. Tiga penyanyi cilik, dua bocah lelaki dengan okulele di tangan dan seorang menenteng topi yang tengadah. Dia  biasanya akan memberi sepantasnya jika pertunjukan yang dibawakan oleh pemusik jalanan, cukup menghibur dan berkualitas. Wow, dan ketiga anak ini benar-benar tahu caranya bernyanyi. Mereka membagi suara, tidak seperti anak-anak biasa yang baru belajar menyanyi, agak asal dengan suara yang keras. Mereka menyanyi dengan harmoni.  Tak segan dia pun memberi apresiasi dengan lembaran uang terakhirnya, karena pikirnya dia akan segera turun ke tempat tujuan dan menemukan ATM terdekat untuk mengambil uang.
                Tiba di stasiun Manggarai, kereta berhenti lebih lama. Dia tidak berdecak heran atau bertanya-tanya mengapa banyak yang meninggalkan kereta lalu kemudian berdiri di peron seperti menunggu kereta berikutnya. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya, tidak hidup benar pada waktu itu. Kadang kemarin dan kadang masa depan yang dia sendiri tak tahu akan bagaimana.
                Kereta kemudian berangkat lagi. Tidak beberapa lama dia heran melihat pemandangan samping kiri kanannya. Kereta berjalan lambat melewati stasiun yang tidak dikenalinya. Tampak baru dan berwarha hijau. Oh, dan dia agak bodoh memang, berpikir bahwa telah ada stasiun baru antara Manggarai dan Cikini. Pikirannya memang berjalan agak lambat, dan dia selalu menyampingkan hal-hal kecil seperti nama tempat atau jalan yang dilewatinya. Coba kalau dia tahu.
 Wait, dia berubah pikiran lagi. Tak mungkin secepat itu stasiun kereta di bangun. Lagian tidak mungkin. Kemudian kesadarannya kembali, namun kereta telah meninggalkan stasiun itu, stasiun yang kemudian dia ketahui namanya, stasiun Sudirman. Dia ada di kereta yang salah. Kereta ekonomi itu menuju Tanah Abang. Bergegas dia turun di stasiun berikutnya, stasiun Karet.
Oh satu lagi masalah muncul. Uang kertasnya tidak ada, padahal dia harus balik lagi ke stasiun Manggarai(dia lebih memilih Tebet) dan naik kereta ekonomi yang menuju Jakarta. Dia tahu pasti dia Cuma punya Rp.500,00 di kantongnya. Tapi untunglah dia masih beruntung selalu meninggalkan satu  recehan lima ratus di saku tasnya. Satu lagi di dompetnya. What a lucky day! Pas Rp. 1500, 00. Walau butuh waktu hampir sepuluh menit untuk mencari-cari, mengorek-ngorek dalam tasnya. Dia tahu ada beberapa pasang matanya mengawasinya but it was not important if you in that condition, right?
So intinya post ini,  dengarlah informasi sebaik-sebaiknya.  Tanya kalau ada yang aneh atau timbul keraguan.  Ingat isi kantong dan bawalah recehan ke mana pun pergi. Have a nice week, bloggers! 

PS:  Happy birthday to Rm. Hariyanto, SJ ke 57 sekaligus  Kampus Orang Muda Jakarta yang ke 3. Bangga menjadi salah satu bagian darinya.

Thanks to om Vitalis Rangga  (Nagekeo ), great to know you as my silent & faithfully reader. Terimakasih woso. God bless you.

  Thanks to thestral too!




Comments

  1. beritanya kok selalu kereta anjlok, rupiah anjlok, dll dll...
    sekali kali kasih kabar harga sembako anjlok di pasaran
    di pasar tapi ya, bukan di tingkat petani...

    ReplyDelete
  2. hahaha dan jangan terlalu sering hilang 'kesadaran". heheheh. tapi kamu baik-baik saja kan? ga kenapa-napa kan? #sokperhatian.

    eh, kamu kapan2 bahas tentang bukunya si Antony de mello itu dums. bahas bagian-bagian yang menarik menurut kamu.

    *penasaran dan belum dapat bukunya :(

    ReplyDelete
  3. kalo gw sih, ada tuh bus yang yang pegangannya tinggi banget untuk orang sependek gw. huhuhuhu.. :(

    ReplyDelete
  4. Serba salah ya haha.. klo aku waktu Naek Busway atau bus apa lah yg lain, malah terbalik suka ngerasa nih bus terlalu pendek sampe kadang aku mesti nunduk dikit haha... :)

    Hem.. Yupz mesti jelas dulu baru berangkat ...

    btw, Gak ada Widget Followerkah untuk ku Follow???

    ReplyDelete
  5. kereta anjlok dah biasa di negeri kita tercinta,asal jangan nyawa aja yang anjlok,love,peace and gaul.

    ReplyDelete
  6. bawa recehan ya juga.soalnya kalo gak ada receh, sulit juga. kayak tadi mau bayar parkir aja susah. untung banyak uang logam ehhehe....

    ReplyDelete
  7. kalo saya, naik kereta ekonomi cuma bayar 5rb rupiah sampai tujuan.

    ReplyDelete
  8. mbak,.
    postingan nhe tntg isi buku yha??
    judul buku na pa mbak??

    klu mnrt sya,.
    inti nya "jgn malu bertanya" !!!!
    (~�▽�)~ (~�▽�)~ (~�▽�)~
    eheheheheheheh

    ReplyDelete
  9. bukannya biasanya para backpacker gak pernah mengecek terlebih dulu isi kantongnya..?!?!?!

    ReplyDelete
  10. Wahaha untung aja masih ada receh dikantong :D
    Kalau tidak, apa kata dunia nanti, hehe :p

    ReplyDelete
  11. salam kenal, memang receh selalu jd solusi B), hehehe

    mampir2 juga y ke http://tirtadarmantio.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah dibaca,semoga bermanfaat. Silakan menuliskan komentar Anda. Terima Kasih

Popular posts from this blog

Cita-cita menjadi seorang dosen

Masih setengah jalan menuju profesi yang dicita-citakan. Sejak kecil, saya ingin berprofesi menjadi seorang guru. Lebih tepatnya guru di desa terpencil. Seorang saudara sepupu saya, ka Servulus Ndoa, tahu sekali cita-cita saya ini. LOL. Kemudian dalam perjalananannya, saya lebih memilih untuk menjadi seorang dosen. Saya tahu tidak mudah dan tidak asal saja menjadi dosen. Komitmen dan dedikasi sepenuh hati. Aissshh, semoga semeste mendukung keinginan anak baru  kemaren sore ini.

Tentu jalannya tidak semulus jalan tol.. Bukan seorang  dengan predikat cum laude, banyak yang harus terus dipelajari, digali, didalami dan dikembangkan (#Tsahhhh, biar kekinian)

Banyak hal yang saya persiapkan. Mulai dari otodidak belajar TOEFL selama liburan dan ketika menganggur dan apply-apply beasiswa S2. Terus, aktif menulis remah-reman dalam bahasa Inggris. Maklum edisi belajar, mulai dari update post bbm, twitter, fb, dan blog. Maaf banget buat yang merasa terganggu, alhasil harus nerimo kalau dibilang …

Jalan-jalan ke Ho Chi Minh City bag 1 -Persiapan, Perjalanan & Hari Pertama

Paulo Coelho — 'And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Dan segala yang baik dan buruk, sebaiknya dituliskan untuk diingat dan dijadikan pelajaran untuk selanjutnya. Halo  travelers dan teman-teman, kali ini saya ingin berbagi cerita  perjalanan saya dan teman-teman ke Ho Chi Minh City. Kami berterima kasih pada beasiswa LPDP RI yang telah mensponsori perjalanan yang sangat berkesan dan membuka wawasan ini. Setelah berkas kami diterima baik oleh sponsor dan pembimbing serta mengetahui ketua program studi, kami pun merencanakan perjalanan kami. Tentu saja dengan modal acceptance dan invitation letter dari panitia seminar.


Kami memesan tiket H-5 hari dari keberangkatan.Sebenarnya bisa dipesan lebih awal dengan harga yang lebih murah, namun salah satu teman kami urusan paspornya belum selesai.
Melalui #travel**a, kami pun mendapat penerbangan yang paling murah pada hari pemesanan dengan #JetS***, transit di Singapura selama kira-k…

Sombong

Jadi jangan sedikit pun kamu menyombongkan diri. Sombong itu bukan milik mereka yang kaya harta.  Sombong itu bukan saja bentuknya material, melainkan pikiran. Jangan sekali kali berpikir lebih pandai, lebih religius, lebih suci, lebih kuat, lebih cantik, lebih aktif,lebih baik.
Jangan sekali kali. Toh kita manusia biasa, nafas diberi. Berbagilah kebahagiaan.
Manusia demikianlah adanya hanya butuh untuk saling paham, saling mengerti, saling cinta, saling menhargai dan saling memperhatikan.Jangan pula menganggap remeh orang yang lebih muda atau sudah tua. Setiap orang dan generasi ada masanya. Jadi saling menghargailah. Demikian, manusia hendaknya saling mendukung satu sama lain.
(Refleksi, reminder untuk diri sendiri dan jikalau ada yang turut membaca, semoga bermanfaat)