Friday, January 29, 2016

Cita-cita menjadi seorang dosen

Masih setengah jalan menuju profesi yang dicita-citakan. Sejak kecil, saya ingin berprofesi menjadi seorang guru. Lebih tepatnya guru di desa terpencil. Seorang saudara sepupu saya, ka Servulus Ndoa, tahu sekali cita-cita saya ini. LOL. Kemudian dalam perjalananannya, saya lebih memilih untuk menjadi seorang dosen. Saya tahu tidak mudah dan tidak asal saja menjadi dosen. Komitmen dan dedikasi sepenuh hati. Aissshh, semoga semeste mendukung keinginan anak baru  kemaren sore ini.

Tentu jalannya tidak semulus jalan tol.. Bukan seorang  dengan predikat cum laude, banyak yang harus terus dipelajari, digali, didalami dan dikembangkan (#Tsahhhh, biar kekinian)

Banyak hal yang saya persiapkan. Mulai dari otodidak belajar TOEFL selama liburan dan ketika menganggur dan apply-apply beasiswa S2. Terus, aktif menulis remah-reman dalam bahasa Inggris. Maklum edisi belajar, mulai dari update post bbm, twitter, fb, dan blog. Maaf banget buat yang merasa terganggu, alhasil harus nerimo kalau dibilang sok Inggris lu! Biasanya ketauan sih, memang lagi belajar.

Dalam perspektif saya, dan  dari pengalaman-pengalaman menerima pengajaran dari dosen-dosen saya sebelumnya yang keren-keren. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari beliau-beliau ini:

1. Kerendahan hati.
Mengapa ini menjadi point pertama? Well, attitude comes first.  Banyak teman-teman kampus  lain mengeluhkan sikap dosen yang agak "lebay"dan " diktator", sedang saya sering mendapat dosen yang menjadi seperti teman. Diantaranya : ada yang bisa bercanda, karaoke bareng, sharing berjam-jam, dan ga gila hormat banget. Tentunya, soal nilai tetap sesuai standar dan hasil dari mahasiswanya.
Rata-rata dosen-dosen saya ini sudah doktor dan profesor yang berasal dari luar negeri. Beliau-beliau ini, mendapat beasiswa yang pada zamannya masih jarang. Namun urusan attitude, nomor satu. Saya pernah dapat dosen sekiller Prof Dolores Umbridge (sumpah, saya takut banget ngeliat dosen ini, sampai jadi alumni? tapi sekarang-sekarang saya mengerti waktu itu management rasa takut dan cemas saya yang ga benar.

Source: google images 
2. Wawasan luas
Ini point yang juga penting. Bukan saja soal update materi tetapi bagaimana dosen menyampaikan hal-hal terbaru juga pengalaman-pengalaman mereka yang berkaitan dengan materi. Saya tumbuh dalam pengajar dengan tipe-tipe dosen seperti ini di S1 dan sekarang ketika S2. Jadi ini PR saya banget agar bisa mengikuti teladan bapak-bapak dan ibu-ibu ini, jadi ketika saya membawakan materi, tidak terpaku pada materi yang toh sudah ditemukan sekian lama, padahal ilmu itu berkembang.

3.Respect, open minded,  life learning. 
Saya ingat sekali   pertemuan kuliah  pertama dengan seorang dosen tua yang pengalamannya tentu sudah banyak sekali. Kurang lebih begini,
"Jika ada pertanyaan,jangan malu tanya. Atau jika ada yang mau menambahkan, silahkan. Anda juga mengoreksi kalau saya salah. Kalian sekarang ada di zaman di mana semua informasi bisa kalian cari sendiri, bukan dari dosen."
Belum pernah saya temui, ada dosen marah ketika ada yang mengoreksi. Jadi karena lingkungan mendukung interaksi macam begini, jadinya ada mahasiswa yang diminta mengoreksi penjelasan dosen di papan. Waktu itu kuliah matematika, ibunya dikoreksi kemudian ada diskusi deh antara keduanya. Ibu dosennya cool!

4. Ada banyak interaksi yang saya ingat dari dosen-dosen S1 saya. Mulai dari mata kuliah 3 sks yang hanya diisi dengan beberapa slide saja. Si bapak dosen, lebih menekankan pemahaman. Jadi kata-kata yang dituliskan di slide, ditelaah sampai kata-kata yang dipahami dan dapat diimajinasikan di kepala. Menurut beliau, siswa atau mahasiswa tuh kebanyakan terlalu hafal teori atau tahu kata tanpa bisa paham. Ini kuliah kocak banget, jadi bisa habis setengah jam untuk tebak kata dan tebak pikiran bapak dosen yang saya hormati ini.
Nah, saya beruntung memilih bapak supervisor penelitian saya yang gaul dan kece. Nah, beliau ini dosen lulusan Jepang. Otomatis gaya bimbingannya beda tapi manfaatnya terasa. Mulai dari simulasi-simulasi presentasi seminar dan sidang tiap dua minggu. Si presenter harus menyiapkan slide sidang, kemudian dibantai mulai dari materi dan penyajian baik dari  teman-teman kelompok dan dosen sendiri.Sistem belajar macam begini, terasa sekali manfaatnya apalagi minimal 40 jurnal internasional yang wajib ada di dalam skripsi so pasti latihan sekali baca-baca jurnal.

Well, demikian sedikit review dari saya.Semoga saya bisa menjadi seperti dosen-dosen ini dalam belajar dan bersikap.

Salam untuk dosen-dosen Kimia FMIPA  UI. Semoga anak kemarin sore ini bisa lebih banyak belajar daripada tidur dan nontion Running Man dan Infinitive Challenge.

Cita-cita tanpa usaha hanya mimpi_-Unknown

1 comment:

  1. Semoga Cita-cita dan harapannya terwujud Mbak Rose.

    Saya juga mengalami bertemu dengan para dosen yang rendah hati. Ingin mengikuti jejak beliau. karena ujung tombak perubahan sebenarnya ada pada pemuda. Maka Kampus tempat strategis dalam memangun sumber daya manusia.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah dibaca,semoga bermanfaat. Silakan menuliskan komentar Anda. Terima Kasih