Skip to main content

Sendiri

Saya bangun pagi-pagi, membiarkan diri sejenak datang ke empunya, namun seperti sebatas ritual, keharusan. Saya sedang setengah hati. Entahlah, lucu tapi saya sedang marah dengan Tuhan, sungguh!

Saya membereskan piring sisa semalam, menyabuninya lalu membilasnya bersih-bersih. Air datang tiada habisnya, merasai segarnya di ujung jari, hati saya sedikit sejuk.

Sekalipun telinga saya menerima bunyi-bunyian begitu banyak, saya mengusahakan untuk mendengar yg satu itu. Dering handphone. Sejak 4 hari yg lalu saya menunggunya, menanti kabar baik, jika ada. Lalu ini hari ke 5, saya masih yakin untuk berharap.

Lagu 'home' mengalun tiba-tiba, saya menenangkan riak air, saya tahu ini dari bapak. Ah saya memegang erat handphone saya, terdiam sejenak, kau tahu saya sedang tidak ingin ditanya.

Ah percakapan kami berakhir menenangkan, selalu!
Terimakasih dan saya tidak akan menyerah.
Tetap, ada hal2 yang harus kita simpan & jalani sendiri, karena yang kita percaya itu diri kita.
Dan Tuhan.

--------------------------
Rosa D Panda_Writing is healing

Comments

  1. ingin kembali ke rumah kah...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak, hehehe tapi pasti nanti :D

      Salam

      Delete
  2. ada waktu untuk menyendiri ada waktu untuk bersama lagi ... *halah malah OOT ya :D
    Salam kenal

    ReplyDelete
  3. Saya suka yang seperti ini, yah pada akhirnya saya pun kembali pada pemikiran bahwa ada banyak hal yang harus kita rahasiakan pada dunia...

    Kadang justru kesendirianlah yg bisa menunjukkan seberapa tangguh kita menghadapi hidup... #tuabanget :p

    sukses ya Rossa untuk "pencariannya"
    Ya, kemanapun kita pergi yang kita cari pada akhirnya adalah sebuah rumah. Selalu ada kata pulang.

    oia, itu lagu Home punya buble yah... wah favorit saya itu :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah dibaca,semoga bermanfaat. Silakan menuliskan komentar Anda. Terima Kasih

Popular posts from this blog

Cita-cita menjadi seorang dosen

Masih setengah jalan menuju profesi yang dicita-citakan. Sejak kecil, saya ingin berprofesi menjadi seorang guru. Lebih tepatnya guru di desa terpencil. Seorang saudara sepupu saya, ka Servulus Ndoa, tahu sekali cita-cita saya ini. LOL. Kemudian dalam perjalananannya, saya lebih memilih untuk menjadi seorang dosen. Saya tahu tidak mudah dan tidak asal saja menjadi dosen. Komitmen dan dedikasi sepenuh hati. Aissshh, semoga semeste mendukung keinginan anak baru  kemaren sore ini.

Tentu jalannya tidak semulus jalan tol.. Bukan seorang  dengan predikat cum laude, banyak yang harus terus dipelajari, digali, didalami dan dikembangkan (#Tsahhhh, biar kekinian)

Banyak hal yang saya persiapkan. Mulai dari otodidak belajar TOEFL selama liburan dan ketika menganggur dan apply-apply beasiswa S2. Terus, aktif menulis remah-reman dalam bahasa Inggris. Maklum edisi belajar, mulai dari update post bbm, twitter, fb, dan blog. Maaf banget buat yang merasa terganggu, alhasil harus nerimo kalau dibilang …

Jalan-jalan ke Ho Chi Minh City bag 1 -Persiapan, Perjalanan & Hari Pertama

Paulo Coelho — 'And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Dan segala yang baik dan buruk, sebaiknya dituliskan untuk diingat dan dijadikan pelajaran untuk selanjutnya. Halo  travelers dan teman-teman, kali ini saya ingin berbagi cerita  perjalanan saya dan teman-teman ke Ho Chi Minh City. Kami berterima kasih pada beasiswa LPDP RI yang telah mensponsori perjalanan yang sangat berkesan dan membuka wawasan ini. Setelah berkas kami diterima baik oleh sponsor dan pembimbing serta mengetahui ketua program studi, kami pun merencanakan perjalanan kami. Tentu saja dengan modal acceptance dan invitation letter dari panitia seminar.


Kami memesan tiket H-5 hari dari keberangkatan.Sebenarnya bisa dipesan lebih awal dengan harga yang lebih murah, namun salah satu teman kami urusan paspornya belum selesai.
Melalui #travel**a, kami pun mendapat penerbangan yang paling murah pada hari pemesanan dengan #JetS***, transit di Singapura selama kira-k…

Sombong

Jadi jangan sedikit pun kamu menyombongkan diri. Sombong itu bukan milik mereka yang kaya harta.  Sombong itu bukan saja bentuknya material, melainkan pikiran. Jangan sekali kali berpikir lebih pandai, lebih religius, lebih suci, lebih kuat, lebih cantik, lebih aktif,lebih baik.
Jangan sekali kali. Toh kita manusia biasa, nafas diberi. Berbagilah kebahagiaan.
Manusia demikianlah adanya hanya butuh untuk saling paham, saling mengerti, saling cinta, saling menhargai dan saling memperhatikan.Jangan pula menganggap remeh orang yang lebih muda atau sudah tua. Setiap orang dan generasi ada masanya. Jadi saling menghargailah. Demikian, manusia hendaknya saling mendukung satu sama lain.
(Refleksi, reminder untuk diri sendiri dan jikalau ada yang turut membaca, semoga bermanfaat)